Oleh: Ust. Dzulqarnain M. Sunusi -Hafizhahullah-
Berikut poin-poin yang disampaikan oleh Al-Ustadz Dzulqarnain -Hafizhahullah- dalam pembahasan mengenai 10 wasiat memperkuat hafalan dan mengobati lupa. Tapi sebelumnya, ustadz menyampaikan bagaimana pentingnya kita menghafal ilmu. Berikut pembahasannya:
- Al-Qur'an disimpan dalam bentuk mushaf agar mudah dibaca dan mudah menghafalnya.
- Hafalan seseorang terhadap ilmu yang menjadi ukuran bagaimana pemahaman seseorang terhadap ilmu tersebut.
- "Ilmuku selalu bersamaku. Dimanapun aku pergi, Ia akan selalu bersamaku." Ilmu dianggap 'ilmu' jika ilmu tersebut mengikuti kita, ada bersama kita. Bukan di kitab.
- Ilmu bukanlah apa yang tersimpan di lemari. Ilmu itu tersimpan di dalam dada. Perhiasan yang sangat istimewa dan kadar yang sangat tinggi adalah ilmu.
- Hafalan yang terpuji adalah hafalan yang bermanfaat, yang sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
- Hafalan jangan hanya sekedar hafalan, tapi HARUS diamalkan.
- Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab yang dimilki. Ilmu itu adalah siapa yang mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah walaupun sedikit riwayat dan kitabnya.
- Hafalan yang tercela selain yang tidak diamalkan adalah dia menghafal tapi tidak tahu apa yang dia hafal. Pemahaman-pemahamannya keliru. Hafalan itu harus disertai dengan pemahaman yang benar.
- Secara umum, apabila seseorang diberi taufiq oleh Allah Azza wa Jalla, maka ia akan mudah menghafalnya.
Selanjutnya,ustadz menyampaikan 10 wasiat bagaimana memperkuat hafalan dan mengobati lupa, berikut wasiatnya:
Yang Pertama,
Selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala, selalu berdzikir kepadaNya dan mengulangi hal tersebut.
Ini adalah sebab yang sangat kuat sehingga banyak hafalannya dan sedikit lupanya.
Mengingat Allah Azza wa Jalla dengan 2 hal:
- Dia selalu memperbaharui niatnya. Dia ikhlaskan niatnya hanya untuk Allah, dan selalu memperbaruinya. Kadang niat awal karena Allah, tiba-tiba di tengah jalan niatnya berubah menjadi untuk dihormati atau tidak mau dikalahkan oleh temannya. Maka niatnya harus diperbarui. Hanya karena Allah, untuk Allah, dan untuk agama Allah.
- Memperhatikan wirid-wirid dan dzikir-dzikir harian, baik yang wajib maupun yang mutlak. Menjaga dzikir setelah shalat, menghayatinya, dan merenungi maknanya. Siapa yang selalu mengingat Allah, maka Allah juga akan mengingatnya.
Mengapa mengingat Allah dapat memperkuat hafalan? Sebab:
- Kalau dia banyak berdzikir kepada Allah, maka dia akan semakin dekat dengan Allah. Jika dekat dengan Allah, syaithon akan menjauh. Syaithon ini yang banyak membuat manusia lupa. Bahaya orang yang lupa dengan dzikir yaitu dia akan diikutkan dengan syaithon dan syaithon ini akan menjadi kawannya. Naudzubillahi min dzalik.
- Karena dzikir adalah sebab pokok yang membuat jiwa hamba tenang, sejuk.. Menghafal di waktu shubuh dan bacaan di akhir malam beda rasanya dengan menghafal dan membaca di siang hari. Allah tidak menjadikan seseorang ada dua hati di dalam dadanya. Jadi, fokuslah dulu pada sesuatu.
- Karena dengan dzikir, seseorang juga memperoleh kekuatan badan dan kekuatan hati. Istighfar adalah bentuk dari dzikir. Istighfar dan taubat adalah sebab bertambahnya kekuatan badan. Contohnya adalah kisah Fathimah Radhiyallahu anha, ketika mendatangi Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa Sallam dan bertanya tentang pekerjaan rumah tangganya yang sangat banyak, maka Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa Sallam menyuruhnya untuk berdzikir sebelum tidur, yaitu dengan tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 34 kali. Hal ini lebih utama.
Wasiat yang kedua,
Menjauh dari dosa dan Maksiat.
Menjauh dari dosa dan maksiat karena hati kadang dimasuki oleh kegelapan. Ibnu Mas'ud berkata:
"Saya menyangka seorang laki-laki itu lupa pada ilmu karena sebuah dosa yang dia lakukan."
As-Salaf mengatakan:
"Haram terhadap hati yang hati ini di dalamnya ada perkara yang dibenci oleh Allah. Haram baginya cahaya masuk kepadanya."
Bertaubat dari dosa dan menjauh dari dosa adalah perkara yang penting bagi penuntut ilmu.
"Wahai oranh-orang yang beriman, jika engkau bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan furqon kepadamu."
Furqon adalah kemampuan seseorang untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Salah satu tips untuk istiqomah adalah menjauhi dosa dan maksiat dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Apabila engkau ingin mendapatkan ilmu itu, maka jangan lakukan maksiat!
Wasiat yang Ketiga,
Beramal dengan ilmu yang telah dipelajari.
Pentingnya beramal dengan ilmu untuk menguatkan hafalan yaitu:
- Karena seseorang yang beramal dengan ilmu akan ditambahkan karunia untuknya. Akan diajarkan lagi ilmu yang sebelumnya tidak diketahuinya. Kata sebagian As-Salaf, "Siapa yang beramal dengan ilmu yang dipelajari maka Allah akan menambahkan ilmu kepada orang tersebut." Suatu amalan, tidak sah tanpa ilmu. Salah satu dari 3 golongan yang paling pertama dipanggang di api neraka adalah orang yang punya ilmu, tapi tidak mengamalkannya. Ilmu yang tidak bermanfaat itu ada dua macam, yaitu 1) Ilmu yang memang tidak ada manfaatnya untuk manusia, misalnya ilmu sihir, 2) Ilmu yang tidak diamalkan.
- Seorang setiap kali dia menghafal kemudian dia mengamalkannya, maka ilmu itu akan terus melekat pada dirinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya, Andaikata mereka mengamalkan apa yang dinasehatkan kepada mereka, andaikata mereka mengamalkan ilmu maka itu yang terbaik untuk mereka. Dan yang paling menguatkan kedudukannya adalah dengan mengamalkan ilmu. Selain daripada itu, kalau dia sudah amalkan, akan Kami beri pahala yang besar dan Kami antar dia kepada hidayah, kepada jalan petunjuk, jalan yang lurus. Jadi, faedah dari ayat tersebut ada dua, yaitu 1) Menambah keteguhan, dan kekokohan seorang hamba. Ketika dia menghafalnya atau ketika dia mengamalkan ilmunya, 2) Allah Azza wa Jalla akan ajarkan untuknya ilmu yang sebelumnya tidak dia ketahui.
Jadi begitulah para ulama, semangat mereka dalam mengamalkan ilmu sehingga dibukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak.
Disebut oleh Al-Imam Sufyan Ats-Tsaury -Rahimahullah- bahwa:
Ilmu itu berbisik, berbicara, "Ayo amalkan saya! Amalkan saya!" Kalau si pemiliki ilmu mengamalkannya, menjawab bisikannya, maka ia akan tetap bersamanya. Kalau tidak, ia akan pergi. Ilmunya akan pergi."
Sebagian dari As-Salaf berkata:
Kami meminta pertolongan untuk menghafal hadits dengan mengamalkan hadits tersebut.
Seorang penuntut ilmu bukan kerjanya hanya duduk, belajar saja, ta'lim saja, tapi kelihatan dari kehidupannya ibadah-ibadah. Ada shalat sunnahnya, ada shalat malamnya, ada shalat dhuhanya, shalat sesudah wudhunya, ada puasanya, dan sebagainya. Sebab ilmu perlu diamalkan.
Para ulama, semakin tua mereka, semakin sibuk dengan ilmu. Sebab memang tabiat ilmu seperti itu. Seseorang jika mengamalkan ilmunya maka Allah akan bukakan untuknya ilmu yang sebelumnya tidak dia ketahui. Akan dibuat kecintaannya kepada ilmu tidak pernah habis, terus berkembang.
Wasiat Keempat,
Melatih Ingatan.
Hafalan, apalagi dalam ilmu agama, itu adalah cahaya dari Allah Ta'ala. Biasakan melatih diri untuk terbiasa menghafal. Dia tidak terikat dengan apa yang dia tulis atau rekam. Sebab kalau terbiasa merekam, secara kejiwaan melatih untuk malas. Ulama terdahulu hanya mendengar hadits satu kali, dan dia langsung menghafalnya. Seseorang kalau mau menghafal, dimulai dengan nash yang ringan dan singkat, kemudian bertahap, yang agak panjang lagi, dan seterusnya hingga terbiasa menghafal hadits-hadits yang panjang. Latihan dan terus latihan. Harus pasang target dengan standar waktu, bukan jumlah atau banyaknya yang dihafal. Dan akan lebih mudah lagi jika kita berada di lingkungan penghafal. Di Yaman, orang yang pekerjaannya pembuat roti hafal Al-Qur'an, padahal setiap hari dia sibuk membuat roti. Maka kita akan malu jika tidak menghafalnya juga. Kita akan punya kecintaan terhadap orang yang suka menghafal di sekitar kita.
Wasiat Kelima,
Menulis Apa yang Dia Hafal.
Menulis, menulis, lagi, dan lagi berulang-ulang hingga hafalannya kuat. Rasululullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Ikatlah ilmu itu dengan menulisnya". Kata ulama, "Ilmu itu adalah hewan buruan, dan penulisan adalah yang mengikat hewan buruan. Jika telah didapatkan ilmunya, maka ikatlah dengan tali yang kuat, yaitu penulisan."
Ada sebuah trik menghafal Al-Qur'an yang bagus, yaitu seorang anak misalnya, dia menghafal Al-Qur'an dan tidak diberikan mushaf kepadanya. Dia hanya diberikan papan. Papan tersebut untuk menulis apa yang dia hafal. Diizinkan untuk melihat mushaf, tapi hanya satu kali. Hanya untuk melihat apa yang harus dia hafalkan. Kemudian dia menulis yang harus dia hafal pada papan tersebut. Tapi trik ini tidak harus dipraktekkan untuk semua orang karena kadang ada juga orang yang baru bisa menghafal jika melihat tulisan.
Wasiat Keenam,
Mudzakarah (Selalu Mengulangi Ilmu).
Metodenya ada dua macam, yaitu:
- Mengulangi dengan orang lain. Misalkan seseorang punya hafalan. Maka dia mencari guru untuk membimbingnya menghafal. Atau mencari orang dekat yang bisa membantu program menghafalnya.
- Mengulangi dengan dirinya sendiri. Misalkan dengan membuat Majelis Tahdid. Majelis yang gurunya hanya memperdengarkan riwayat kemudian dia menghafalnya sendiri.
Wasiat Ketujuh,
Menceritakan Apa yang Dia Hafal.
Misalkan dia hafal sebuah hadits, kemudian dia bertemu dengan temannya, maka ia menceritakan tentang hadits tersebut. Atau bisa juga dengan tebak-tebakan hadits dengan temannya. Kalau bertemu dengan teman, sebaiknya menceritakan tentang hadits. Membicarakan sebuah hadits lalu berpencar atau langsung pulang lebih baik daripada ceritanya ngalur ngidul tidak jelas. Ini kebiasaan bagus, hafalannya juga terjaga masyaAllah.
Wasiat Kedelapan,
Pandai Mengikat Hafalannya dengan Sesuatu.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengajarkan, "Ya Allah, berilah hidayah dan kelurusan kepadaku. Dan sebutlah engkau meminta kelurusan itu seperti lurusnya anak panah. Dia harus lurus. Karena kalau bengkok sedikit, maka sasarannya tidak akan tepat."
Agar mudah mengingat, kaitkan hafalan dengan sebuah moment atau istilah. Misalnya di pembahasan huruf-huruf depan di fiil mudhari' yang bisa dipakai yaitu huruf nun, alif, ya, dan ta. Bagaimana cara mudah mengingat empat huruf itu? Caranya disingkat dalam kalimat "na ayta". Atau misal huruf qalqalah, disingkat dengan "ba ju di to ko"
Wasiat Kesembilan,
Terkait Masalah Makanan yang Dimakan.
Ada jenis-jenis makanan yang membantu hafalan, misalnya:
- Madu
- Kismis (bukan anggur, karena anggur bikin ngantuk)
- Luban (ada di Tanah Haram, bentuknya bulat, kayak batu, kalau digigit kayak permen karet, dan rasanya pahit) ini bagus untuk menghafal.
- Meminum air zam zam
Kiat yang lain yaitu dengan mencium bau harum. Kemudian ada buah yang kurang bagus menurut para ulama, yaitu buah apel mentah. Buah ini kurang bagus untuk dikonsumsi jika ingin menghafal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, susu bisa mewakili makanan dan minuman.
Wasiat Kesepuluh.
Kepandaian di dalam Mengatur Waktu.
Apalagi bagi pemula. Misalkan sekarang dia punya waktu 2 jam sedangkan banyak yang mau dihafal. Caranya yaitu Al-Qur'an dia bagi menjadi 7 bagian dan dalam sepekan dia khatam baca Al-Qur'an. Metodenya disingkat dalam kaidah Fa Miy Bi Syaw Qin (Mulutku selalu rindu membacanya).
- Fa ---> Al-Fatihah
- Mim ---> Al-Maidah
- Ya ---> Surah Yunus
- Ba ---> Bani Israil (Al-Isra')
- Syin ---> Asy-Syuara'
- Wa ---> Washshoffat
- Qaf ---> Surah Qaf
Jadi pada hari pertama, dia membaca Al-Fatihah hingga Al-Maidah, kemudian hari berikutnya dari Al-Maidah hingga Surah Yunus, dan seterusnya hingga hari ke tujuh, dia membaca Surah Qaf hingga An-Nas.
Demikian sedikit catatan dari ceramah Al-Ustadz Dzulqarnain mengenai 10 wasiat memperkuat hafalan dan mengobati lupa. Bagi yang mau dengar kajiannya, silakan didownload di sini. Semoga Allah senantiasa memberikan cahaya hidayahnya kepada kita semua agar selalu menuntut ilmu, menaati semua perintahNya dan menjauhi laranganNya, untuk selalu menjadi baik di mataNya agar kelak kita dimasukkan ke surgaNya. Aamiin. Semoga bermanfaat..