Jumat, 21 Maret 2014

NASEHAT

Bismillaah...
Mari kembali menasehati diri sendiri agar kita kembali mengingat dan flash back, bagaimana perbuatan dan perkataan kita selama ini.
Ada beberapa kalimat yang terlintas di dalam pikiran ini, dan saya merasa ada baiknya saya tulis agar saya tidak lupa dan suatu saat ketika saya khilaf, saya bisa kembali membacanya, sebagai teguran untuk saya sendiri.
Bismillaah...
Sudah banyak artikel, banyak ceramah, dan banyak status-status di facebook yang selalu menasehati kita untuk menjauhi cinta yang keliru. Salah satunya bisa dibaca dan didengarkan pada postingan sebelumnya.
Iya, cinta yang keliru. Cinta yang tidak didasari oleh pernikahan. Cinta yang tidak didasari oleh rasa takut kepada Allah. Cinta yang belum diperbolehkan, belum halal untuk diumbar-umbarkan. Selayaknya, sebagai seorang muslimah, kita bisa menahan diri dari cinta yang seperti ini. Tapi kadang kita khilaf, badai hawa nafsu terlalu kencang sementara kita terlalu lemah dalam membentenginya. Ya Allah....astaghfirullah...
Maka kita harus selalu menasehati diri sendiri.
Perbanyak ilmu dalam melawan hal seperti ini. Jangan sampai kita terhanyut dalam kenikmatan sesaat.
Jangan mau menukarkan pemuasan keinginan dan hawa nafsu berupa kesenangan semu dan fana, dengan kenikmatan abadi ketika kita menaati perintah Allah Azza wa Jalla.
Jangan sampai perkataan dan angan-angan melampaui fakta dan kenyataan.
Perkataan dan angan-angannya seperti telah menganggap bahwa dia sudah halal, karena saking dekatnya. Sedangkan fakta dan kenyataannya? Dia masih lelaki ajnabi..
Ingatlah....dia atau mereka adalah lelaki ajnabi..yang bisa saja terfitnah oleh kita wanita..
Jangan sampai karena sudah merasa dekat, akhirnya malah kelewat batas.
Dan akhirnya siapa yang rugi? Semua rugi. Allah mungkin saja tidak menyukai apa yang telah kita lakukan. Dan kerugian terbesar adalah ketika Allah memurkai apa yang kita lakukan..
Sedikit teringat dengan kutipan ceramah Ust. Dzulqarnain beberapa waktu lalu tentang cinta keliru. Beliau hafizhahullah mengatakan, "Sekarang dia mengejar sesuatu. Sesuatu itu belum tentu ia dapatkan. Kalaupun dia dapatkan, belum tentu dia akan bahagia bersamanya. Tapi dalam mendapatkannya, dia sudah menempuh berbagai maksiat. Maka apa yang harus ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala?"
MasyaAllah....nasehat yang sangat bagus.
Betul sekali, sekarang ini banyak pemuda-pemudi yang seakan-akan orang yang dikejarnya adalah tujuan akhirnya. Melakukan ini, melakukan itu, semua agar disukai oleh orang yang menjadi targetnya. Berbagai maksiat dilakukan, karena mungkin takut kehilangan. Sementara, kehilangan terbesar adalah kehilangan ridho Allah atas apa yang telah kita lakukan. Hal yang harus dikejar adalah ridho Allah. Belum tentu ketika kita mendapatkan orang yang kita kejar, lantas mutlak bahwa kita akan bahagia bersamanya. Bisa jadi karena Allah melihat terlalu banyak maksiat yang telah dilakukan untuk tujuan tersebut, sehingga Allah menegur kita. Jadi apa yang kita bisa lakukan? Ingatlah, Allah bisa membolak-balikkan hati manusia. Dan lagi, hati-hatilah terhadap syirik. Bisa saja hal ini termasuk dalam kategori syirik yang terselubung.
Saya juga teringat kutipan status salah satu fanspage di facebook, bahwa:
Jodoh itu gak bakal kemana-mana.
Kalau bukan jodoh, pasti kemana-mana.
Jangan pernah mendahului Allah dengan berkeyakinan bahwa Seseorang adalah jodoh kita, sebelum akad suci itu tiba.
Karena Allah Maha Pembolak-balik hati.
Segala sesuatu bisa saja terjadi.
Maka janganlah berbuka sebelum waktunya.
Jangan memanen sebelum masanya.
Dan jangan merasa memiliki apa yang belum menjadi hak kita.
Bisa diibaratkan sekarang ini kita sedang berpuasa. Nikmatilah puasa ini dengan banyak menimba ilmu syar'i. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya, mumpung masih sempat. Karena akan tiba saatnya, ketika masa ini berlalu. Kesempatan ini berlalu. Ketika kita tidak sendiri lagi. Sudah punya kewajiban yang harus ditunaikan. Sudah ada orang yang kita harus berbakti padanya (selain orangtua kita). Dan mungkin akan segera tiba saatnya ketika kita juga sudah punya anak-anak yang dirawat, dibesarkan, dididik. Memang, pada saat membayangkan masa itu, kita pasti tersenyum dan ingin segera merasakannya. Tapi bersabarlah..sudah ada waktu yang disiapkan oleh Allah untuk masa tersebut. Mungkin saja masih beberapa bulan lagi, atau mungkin sudah dekat. Perihal dengan siapa, kapan, dimana, semua sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh.. tidak ada yang bisa mengubahnya. Allah Azza wa Jalla telah menetapkannya.
Harapan dan berharap itu boleh.. Tapi jangan sampai harapan membius kita sehingga melewati batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Ikutilah aturan, insyaAllah Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meridhoi. Semoga..
Jangan khawatir soal jodoh, karena dia tidak mungkin lari, dia tidak mungkin tertukar. Allah sudah mengaturnya.

Dan ingatlah ini baik-baik:
Jika kita mencintai seseorang, janganlah kita menjadi ladang fitnah baginya, yang dapat menjerumuskannya ke dalam maksiat, dan dapat mendorongnya ke neraka...
Tapi jadilah pendukung dalam ketaatannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dengan menjauhi hal2 yg membuatnya terfitnah. Semoga Allah juga mencintai orang yang mencintai seseorang karenaNya. Aamiin.
Subhanakallaahumma wabihamdik. Asyhadu Allaa ilaaha ilaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilayk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar