Hijaab-ku memang tidak menarik, tidak ada tutorial khusus untuk memakainya, tidak perlu diputar-putar, dipelintir-pelintir, diperas-peras, ditarik-tarik dan diikat-ikat.
No need tutorial for hijab syar'i because syariah is simple
Hijaab-ku memang tidak menarik, karena fungsi hijaab adalah untuk menyembunyikan perhiasan. Jika aku sematkan hiasan-hiasan di atasnya dengan berbagai macam aplikasi maka terpenuhikah fungsi hijaab yang dikehendaki oleh syari’at?
Hijaab-ku memang tidak menarik, karena aku memakainya bukan untuk menarik perhatian orang, aku pun tidak akan ‘ngoyo’ dalam mendakwahkan hijaab dengan menghias-hiasinya, memodifikasinya supaya muslimah ramai-ramai berhijaab. Tapi pada akhirnya hanya kuantitas muslimah berhijaab yang bertambah, lantas bagaimana dengan kualitasnya?
Hijaab-ku memang tidak menarik, karena buat apa jika makhluk tertarik tetapi Pencipta membencinya karena hijaab yang kupakai menyimpang dari tuntunan syari’at?
Hijaab-ku memang tidak menarik, karena dalam surat An-Nur ayat 31, muslimah dilarang menampakkan perhiasannya kepada selain mahramnya, dan jika kuhias-hiasi hijaab-ku hingga terlihat menarik di mata selain mahramku, lantas bagaimana nasib ketaatanku kepada firman-Nya?
Hijaab-ku memang tidak menarik, dan bukankah hendaknya muslimah saat keluar rumah mematut dirinya di cermin untuk memastikan bahwa Allah ridha dengan hijaab-nya? Bukankah sudah cukup peringatan Rasulullaah bahwa jika wanita keluar rumah maka syaithan akan menghiasinya?
Hijaab-ku memang tidak menarik, tetapi inilah salah satu caraku untuk berusaha taat pada perintah-Nya, taat pada tuntunan-Nya dalam berhijaab untuk menjauhkan diri dari perbuatan tabbaruj (bersolek) yang tercela.
Kita tahu fungsi hijaab??? Bukankah untuk menutupi perhiasan & tidak menarik perhatian, tapi kalau malah memperlihatkan perhiasan dan malah menjadi perhiasan itu sendiri serta menarik perhatian laki-laki ajnabi, maka itu bukan hijaab lagi, namun hanya selembar kain tabarruj yg bertengger di atas kepala.
Yuk luruskan niat, perbaiki cara berhijaab sesuai syariat, sungguh syaithan akan senang jika kita tidak berhasil dicegah untuk menutup aurat tapi kita bisa diarahkan berhijaab yg melenceng dari syariat.
SYARAT PAKAIAN MUSLIMAH
1. Menutup seluruh tubuh. Allah ta’ala berfirman yg artinya,
“Hai Nabi, katakan ke istri-istrimu, anak-anak wanitamu & istri-istrinya mukminin, ulurkanlah jilbabnya ke seluruh tubuh.” [Al-Ahzab: 59]
2. Bukan perhiasan & menutupi dada.
[QS.An-Nur:31]
3. Tidak ketat (membentuk lekukan tubuh) dan tidak tipis
“Dua golongan ahli neraka yang belum aku lihat ...dan wanita-wanita berpakaian tapi telanjang...” [HR. Muslim, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
4. Tidak memakai wewangian. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Wanita mana saja yang memakai wewangian agar kaum pria mencium harumnya, ia pezina.” [HR. An-Nasai, Abu Musa radhiyallahu’anhu] (kecuali jika di dalam rumahnya sehingga tidak tercium baunya oleh pria yg bukan mahromnya)
5. Tidak seperti pakaian wanita kafir/fasik. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa menyerupai suatu kaum, ia bagian dari mereka.” [HR. Abu Daud, Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma]
6. Tidak seperti pakaian pria.
“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat pria menyerupai wanita & wanita menyerupai pria.” [HR. Bukhari no. 5885]
7. Bukan pakaian ketenaran. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa memakai pakaian ketenaran, Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan di hari kiamat." [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan]
8. Tidak bersanggul (punuk unta)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim no. 2128]
Hijaabku memang tidak menarik. Tetapi percayalah, suatu saat jika engkau paham pada ilmunya, dan engkau bukakan hatimu kepada kebenaran (al haq) dan kau tundukkan hasratmu untuk berhias yang tidak sesuai dengan syari’at, maka hijaab-ku pun akan tampak menarik di matamu, Insya Allaahu Ta’ala.
Allahu’alam bishshowab
copas dari sini
Kamis, 09 Januari 2014
Sabtu, 04 Januari 2014
Keluarga yang Lama Tak Terjamah
Yyap!
Hhmmm...hari ini malas badai buat blajar..
Sekarang saya mau bercerita tentang yang saya lalui hari ini.
Hemm,, jadi critanya hari ini saudara bapak saya alias tante saya meninggal. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Berita ini mengejutkan sekali, sangat sangat mengejutkan, plus menggalaukan. Kenapa menggalaukan? Yaaa seperti yang seluruh dunia telah mengetahuinya, ortu saya kan sudah cerai. Sejak hhmmm.....kelas 5, kelas 6, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, kuliah 3,5 tahun, dan sekarang saya sudah nganggur kurang lebih setengah tahun (hiks), jadi kira-kira sudah kurang lebih 12 tahun yang lalu bapak saya pergi. Meninggalkan kami. Iya, meninggalkan kami. Mereka sudah cerai. Nnah,, semenjak mereka cerai ini, kami anak-anak dari mereka harus melewati masa-masa yang sulit! Liat orang lain dianter sama bapaknya, galau. Denger orang lain bercerita tentang bapaknya, galau. Mencium asap rokok, galau (ehh). Iya, karena bapak saya dulu itu perokok. Ah pokoknya serba galau..
Di rumah (saya tinggalnya sama mama), penuh dengan gejolak. Kita berbuat salah, "Ini pasti kamu tiru dari sifat bapakmu!". Padahal ini karena malas menyapu rumah loh. Dikit-dikit "Memang karena anaknya bapaknya", "Lah, memang sifatnya bapaknya begitu kok, nda bennerr". Kyaaaaaaaa!!!! (pengen teriak!). Emang kali ya, bapak saya nggak bennerr (ehh).
Belum lagi kalau kita habis silaturahmi sama bapak dan keluarga disana. Kayak mau kiamat rasanya. Nah,,seperti hari ini. Karena tante saya meninggal, ya kami (minimal saya) harus ke sana dong. Sebenarnya sempat galau juga, nggak kesana, nggak enak sama keluarga. Kalau saya kesana, pasti mama bakal sensitif lagi. Tuh...ortu cerai itu bikin galau banget kan? Sampai keluarga dekat gini meninggal aja sampai bikin galau setengah mati. Lebay hehehe..
Akhirnya saya putuskan kesana. Toh melayat juga bagus.Kita jadi ingat kematian. Jadi saya mulai siap-siap.
Di tengah saya lagi siap-siap, tiba-tiba mama bersuara. "Mau kemana Ipa?". "Mau melayat toh Ma..". "Tidak usah kesana." Tapi saya tetap pergi. Saya kesana sama tante (saudara mama saya).
Yoshh! Singkat cerita saya mendarat disana dengan aman. Saya turun dari pete-pete (ehh) dan berjalan masuk ke rumah keluarga. Dari kejauhan saya melihat kakek. Dia begitu kurus. Hitam. Kecil (cucu kundang ckckck) dan sepertinya penglihatan dan pendengarannya sudah kurang berfungsi. Saya mempercepat langkah saya ke kakek, lalu saya salaman dan menyentuhkan pipi saya ke tangannya. Dia cuma berekspresi bingung. Saya tersenyum padanya, dan dia terpesona (ehh) hahahaa.. Saya katakan padanya, "Aji, saya Ipa.." Dia tetap dengan ekspresi bingungnya. Tapi sekarang ekspresinya lebih datar. Entah dia mendengar ucapanku atau tidak. Kemudian tante saya menyusul bersalaman dengan kakek. Sama. Ekspresinya tidak berubah. Mungkin dia benar-benar lupa pada kami. Hmmm iya sih, 12 tahun kan bukan waktu yang singkat.
Kemudian kami pamit ke rumah tante yang meninggal. Kebetulan rumahnya berdekatan. Dari kejauhan orang-orang yang melihat saya terlihat seperti berpikir keras sambil mengingat-ingat. Mungkin mereka heran, siapa itu yang datang. Dengan jilbab besarnya yang berwarna merah maron muda. Dengan angin yang membuat jilbabnya seperti berkibar. Bendera kali hahaha.. Ya sudah, saya semakin dekat. Agak grogi sih dipandangi seperti ini, tapi mau berbalik dan pulang ke rumah juga tidak mungkin. Saya mengumpulkan keberanian untuk terus melangkah maju. Dan akhirnya saya tiba di rumah duka. Orang-orang memandangiku heran. Mereka berusaha tersenyum padaku. Tapi senyum mereka juga tak bisa menutupi kalau mereka memang sedang heran dan bingung ini siapa yang datang. Kok cantik sekali. (ehh)
Untung saja, mereka belum sepenuhnya lupa sama wajah tante saya. Mereka mengenalinya! Alhamdulillah.... Akhirnya tante saya yang mengumumkan kalau saya ini anaknya bapak dan mama saya (yaiyalah!). Hahhaa...maksud saya begini, tante memberitahu orang-orang disana, kalau saya ini Musdalifah, anak dari Pak Abdul Kadir dan Ibu Hasni. Alhamdulillah setelah mendengar hal tersebut ingatan mereka kembali dan langsung menyambut saya *sujud syukur* hehehe. Banyak yang mengatakan, "oooh Ipa yang dulu masih kecil itu ya...waah sudah besar ya.." Saya cuma bilang "Iya tante..hehhee" sambil menyalami mereka satu persatu. "Tadi itu kita bingung, tidak dikenali tadi, karena sudah cantik.." Saya langsung kelilipan. Dalam hati saya berkata, "Iya tante, itik kini telah berubah menjadi angsa hehehhehehehehehehehehe". 'hehehhehehehehehehehehe' ku ini membuat wajahku mengeluarkan senyum ongol.
Yyaapp! lolos tahap 1. Saya akhirnya teridentifikasi. Kemudian saya mendekati jenazah, dan mendapati tante saya yang dulunya geemuukk sekali, sekarang jenazahnya kuuruuuss sekali. Agak heran juga, tapi setelah mengetahui sejarah penyakitnya hingga ajal menjemputnya, semua terasa wajar. Iya, dia menderita kanker payudara yang telah menyebar ke seluruh tubuh, dan terakhir didiagnosis kankernya telah bersarang juga di liver (hatinya). Kasihan tante. Saya tidak pernah menjenguknya di rumah sakit. Hiks.
Kulihat di sekeliling, saya temukan sepupu-sepupu saya (anak dari tante yang meninggal). Ini cuma tebakan sebenarnya, karena saya juga sudah tidak tahu bagaimana perkembangan sepupu-sepupu saya, bagaimana wajah mereka sekarang. Tapi memang sepertinya mereka itu anaknya tante, karena mereka terlihat begitu berduka. Mata mereka sembab dan sangat diliputi kesedihan. Mereka tak henti-hentinya menangis dan memegangi jenazah ibu mereka. Sungguh sangat menyedihkan.
Setelah sekitar satu jam lebih kami di rumah duka, sambil berbincang-bincang dengan keluarga yang datang, kami memutuskan untuk pulang. Kami pamit sama keluarga disana. Banyak yang menanyakan, "Sudah ketemu bapakmu? Tadi dia ada di luar. Sudah lihat?" Saya cuma tersenyum sambil mengatakan "Belum tante hehehe".
Kami keluar dari rumah duka. Tidak jauh dari sana, saya melihat sosok yang sangat familiar. Tapi bentuknya sedikit berbeda. Dia ini kurus, pendek, hitam, dan dia tersenyum padaku. Batinku berteriak "Bapak! Itu Bapak!" Kupercepat langkahku dan salim-salim cipika-cipiki sama bapak. Kupandangi wajahnya..iya..sosok ini... Saya tersenyum padanya. Kemudian kupandangi di sekeliling, ternyata semua mata tertuju padaku. Tiba-tiba grogi dan salting, saya malah menepuk pundaknya Bapak (haduhh -__- kayak ke teman saja). Sadar akan kelainanku, saya hentikan tepukan pundakku dan pura-pura buru-buru pulang. Tapi setelah saya melewati Bapak, saya bertemu dengan tanteku (saudara bapak) yang lain. Kami berjalan bersama (apa sih??). Kemudian saya melihat kakek lagi. Masih disana. Tetap di kursinya. Tapi sekarang sudah banyak orang di sekelilingnya. Saya berniat pamit dulu sama kakek sebelum pulang, terserah dia mau kenal atau tidak. Yang jelas pamit. Tante pamit duluan sama kakek sambil menyalami tangannya dan menanyakan keadaannya. Tiba-tiba dengan suara keras, tante saya yang dari bapak tadi mengatakan, "Masih kenal sama ini? Ini adeknya Hasni, yang di Tamangapa." Barulah kakek berekspresi (mungkin dia mendengar perkataan tante tadi), dia mengatakan "Oooh...bagaimana keadaanmu disana? Sehat semua?" Dia mengatakan itu sambil tersenyum. Uuuhh kakekkuu love youu.. *ehh*. Tante menjawab, "Iya alhamdulillah semua sehat..kalau Aji bagaimana keadaannya?" Kakek juga menjawab, "Yaa begitulah..sudah sakit-sakitan.." Kemudian giliran saya yang pamit. Kupegang tangannya, lalu kucium dan kutempelkan di pipi. Kemudian kupandangi wajahnya, kukatakan "Aji..." Lalu tante bilang, "Itu anaknya Kadir..yang kedua.." Kakek lalu memandangi wajahku lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar.. Dia menangis.. Air matanya mengalir sangat deras dan tubuhnya terguncang. Lalu dia mencium kepalaku, dan akhirnya saya juga tidak bisa menahan air mata.. Kami sama-sama menangis. Orang-orang yang menyaksikan kami juga turut meneteskan air mata. "Saya sangat menginginkan supaya mama sama bapaknya tidak bercerai..tapi bapaknya tetap melakukannya.." Kata-kata kakek membuatku semakin bersedih karena harus teringat itu lagi. Saya menangis di atas tangan kakek. "Jadi kalian tinggal dimana nak? Semua di rumahnya mama?" Saya cuma menjawab "Iya, Kek.." Lalu kupandangi Bapak saya disana. Dia cuma memandang ke entah arah mana. Dia terdiam. Ada kesedihan yang disembunyikan wajahnya. Kemudian kubelai tangan kakek yang sudah sangat keriput sambil terus menangis. Lalu saya memutuskan untuk pamit. Sekali lagi kucium tangan kakek. Kakek menyuruhku untuk nginap tapi rasanya tidak bisa. Lalu kami betul-betul pamit dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
Singkat cerita saya sudah tiba di rumah, kakak saya baru mau berangkat. Mama langsung menyambut dengan banyak pertanyaan, kujawab seadanya (semaksimal mungkin tidak memancing emosinya). Kuingatkan kakak untuk memperkenalkan diri ke kakek kalau bertemu nanti karena dia pasti sudah tidak kenal, dan kuingatkan juga untuk membawa uang (jangan kayak saya, cuma bawa diri ckckck..lupa siih). Yap mereka berangkat. Saya lalu ditanya-tanya sama mama, termasuk "Ketemu sama Bapakmu?" "Ketemu sama mama barumu?". Hhmmm..
Singkat cerita (lagi), mereka sudah kembali. Belum masuk mereka sudah ditanya-tanyai. Pertanyaan yang sama dengan yang ditujukan padaku tadi. Dan parahnya, pada pertanyaan "Jadi tadi Ammar ketemu sama nenek barunya?" Kakak saya malah menjawab "Iya..Ini ada jagung dari sana Ma.." Dan saat itulah, tiba-tiba gelap. Berawan. Mendung. Kilat menyambar-nyambar. Lalu mama bertanya lagi "Ooh..jadi sudah ada anaknya juga?" dengan suara yang bergetar. Saya yang saat itu tengah makan, merasakan aura yang berbeda. Horor. Diliputi rasa penasaran yang sangat besar, kupaksakan kepalaku untuk menoleh. Ternyata Mama waktu itu memang terlihat sangat seram. Pisau yang digunakannya untuk mengupas jagung terlihat seram, dan di wajahnya ada senyuman...senyuman aneh. Karena takut, saya lalu mengembalikan posisi kepala saya dan melanjutkan makan. Tiba-tiba saya merasakan perut saya muless.. Betul-betul pembicaraan dan suasana semacam ini sangat ampuh merusak sistem pencernaan. Kuselesaikan makanku lalu ke toilet (penting?).
Hhhm... suasana menyeramkan. Mama kembali menjadi sensitif dan menganggap salah semua yang kami lakukan. Rumah seakan-akan tidak bisa lagi disebut "baitiy jannatiy".
Malamnya, mama sedang nonton TV sambil berbaring. Lalu mama berkata "Ooh kalau orang sudah dari sana (dari keluarganya bapak), jadi malas mi sama mama. Kan ada mi mama barunya." Saya yang mendengarnya langsung secepat kilat ke sampingnya mama. "Bisanya itu mama hehehhee" sambil mijit-mijit mama. Mama lalu bercerita panjang lebar yang akhirnya membuat saya mengerti. Mengapa mama begitu sensitif dan tidak suka kalau anak-anaknya pergi mengunjungi atau hanya sekedar melayat ke keluarganya bapak. Perasaan. Ya, karena perasaan. Perasaan sedih yang mendalam. Perasaan kecewa yang sangat luar biasa. Dan mungkin sedikit perasaan benci yang lahir setelah rasa sedih dan kecewa itu bercampur. Saya tidak sengaja meneteskan air mata ketika mengetahui bagaimana sakitnya perasaan mama. Karena itulah mama sangat tidak suka. Karena itulah mama sangat protektif. Karena itulah mama sangat sensitif. Mama selalu tidak mengizinkan saya setiap kali saya meminta izin untuk keluar ke tempat yang jauh karena beliau sayang sama saya. Mama selalu "memaksa" saya untuk bisa selesai kuliah secepatnya karena mama punya misi yang sangat mulia. Mama selalu memarahi saya, karena dia ingin melihat anaknya menjadi baik. Saya menangis merenungi itu semua. Betapa dulu saya sangat sering jengkel sama mama. Astaghfirullah..
Tapi ada satu kalimat dari mama yang sangat sulit saya terima, "Kalau kamu sampai rela memaafkan orang yang telah membuangmu seperti bapakmu, sungguh kau sangat tidak adil, Ipa..."
Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Hhmm...beginilah nasib. Allah azza wa jalla telah menetapkan hal ini pada kami. Allah tidak pernah tidur. Allah tahu bagaimana kemampuan hambaNya. Dia tidak mungkin memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hambaNya. Dia tahu apa yang saya lakukan, ayah saya lakukan, dan yang semua orang lakukan. Dia Maha Melihat. Kewajiban bapak sebagai seorang ayah masih tetap dan akan terus berada di pundaknya. Semoga bapak suatu saat sadar akan hal ini, dan menjalankan kewajibannya kepada kami, anak-anaknya. Jangan terlalu lama LUPA sama kewajiban, Pak. Semoga bapak segera diberikan hidayah..
Hhhm... suasana menyeramkan. Mama kembali menjadi sensitif dan menganggap salah semua yang kami lakukan. Rumah seakan-akan tidak bisa lagi disebut "baitiy jannatiy".
Malamnya, mama sedang nonton TV sambil berbaring. Lalu mama berkata "Ooh kalau orang sudah dari sana (dari keluarganya bapak), jadi malas mi sama mama. Kan ada mi mama barunya." Saya yang mendengarnya langsung secepat kilat ke sampingnya mama. "Bisanya itu mama hehehhee" sambil mijit-mijit mama. Mama lalu bercerita panjang lebar yang akhirnya membuat saya mengerti. Mengapa mama begitu sensitif dan tidak suka kalau anak-anaknya pergi mengunjungi atau hanya sekedar melayat ke keluarganya bapak. Perasaan. Ya, karena perasaan. Perasaan sedih yang mendalam. Perasaan kecewa yang sangat luar biasa. Dan mungkin sedikit perasaan benci yang lahir setelah rasa sedih dan kecewa itu bercampur. Saya tidak sengaja meneteskan air mata ketika mengetahui bagaimana sakitnya perasaan mama. Karena itulah mama sangat tidak suka. Karena itulah mama sangat protektif. Karena itulah mama sangat sensitif. Mama selalu tidak mengizinkan saya setiap kali saya meminta izin untuk keluar ke tempat yang jauh karena beliau sayang sama saya. Mama selalu "memaksa" saya untuk bisa selesai kuliah secepatnya karena mama punya misi yang sangat mulia. Mama selalu memarahi saya, karena dia ingin melihat anaknya menjadi baik. Saya menangis merenungi itu semua. Betapa dulu saya sangat sering jengkel sama mama. Astaghfirullah..
Tapi ada satu kalimat dari mama yang sangat sulit saya terima, "Kalau kamu sampai rela memaafkan orang yang telah membuangmu seperti bapakmu, sungguh kau sangat tidak adil, Ipa..."
Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Hhmm...beginilah nasib. Allah azza wa jalla telah menetapkan hal ini pada kami. Allah tidak pernah tidur. Allah tahu bagaimana kemampuan hambaNya. Dia tidak mungkin memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hambaNya. Dia tahu apa yang saya lakukan, ayah saya lakukan, dan yang semua orang lakukan. Dia Maha Melihat. Kewajiban bapak sebagai seorang ayah masih tetap dan akan terus berada di pundaknya. Semoga bapak suatu saat sadar akan hal ini, dan menjalankan kewajibannya kepada kami, anak-anaknya. Jangan terlalu lama LUPA sama kewajiban, Pak. Semoga bapak segera diberikan hidayah..
Jumat, 03 Januari 2014
SERUAN UNTUK WANITA MUSLIMAH
Jika kukatakan ini seruan, rasanya suara ini terlalu lemah. Jika kukatakan ini dakwah, sepertinya kalian malas untuk mendengarnya, biar kusederhanakan saja, ini adalah sentuhan..
Sentuhan dari hatiku yang terdalam,
Sapaan dari hati kami, para lelaki yang mengagumi keindahan.
Semoga Allah melembutkan hati saudari, wahai calon bidadari yang dirahmati
Wahai calon-calon istri shalehah kebanggaan Islam..
Wahai kaum hawa yang di dadanya
Telah tumbuh tunas-tunas Iman.
Wahai muslimah yang hatinya bersenandung kerinduan.
Kerinduan untuk kembali ke sebuah kampung halaman (syurga)
Dimana Adam dan Istrinya Hawa dimuliakan..
Dalam hijab kedamaian
Damai..
Damailah wahai dawai hati
Jangan engkau ingkari atau berkata enggan kembali
Karena pasti.. yah, pasti kalian akan kembali.
Sungguh bait sederhana ini kutulis dari irisan hati, menanti
Menanti engkau kembali, antiiy (engkau saudariku).
Seruan ini kutulis dari hatiku
Biarkan syair kecilnya mengenali, menyapa, dan menggetarkanmu..
Tentu saja, kami tidak mengajak wanita-wanita pembangkang
Yang menolak cahaya agung Al Islam.
Kami tidak menyeru penghuni biara-biara kesesatan, atau
Wanita-wanita malam metropolitan
Kami juga tidak menyeru kepada hati yang telah keras membatu,
Lalu Allah mengunci mati semua pintunya..
Syair bebas ini memang untukmu, untukmu yang masih mendengar..
Kami tidak menyeru kepada mereka yang biasanya tertawa
Saat seruan berhijab/menutup aurat datang..
Biarkan saja mereka terus dilanda gelisah!
Hingga azab Allah mematahkan harapannya..
Semoga Hidayah Allah segera menyapanya..
Aku menyeru dengan kelembutan, hanya kepada hati-hati yang lembut..
Mencoba merayu dari sudut bisu,
Mengintip celah hidayah diantara hati hati yang resah
Sebelum keresahan itu pecah..menjadi amarah dan murka-Nya
Aku percaya hatimu lembut,
Selembut tutur bahasa, seteduh indah tatapan..
Aku pun tahu kalian sebenarnya iri..
Iyah, kalian begitu iri..
Kalian iri, terpesona saat melihat hamba Allah lain
Bersahaja dengan jilbabnya
Istiqamah dan di manja dengan kerudungnya..
Begitu mempesonakan mata dengan kebaya-nya
Jujurlah bahwa kalian gelisah..
Kami pun paham, betapa beratnya harga yang harus kalian tukar..
Memilih istiqamah saat semua mencela..
Menjadi baik saat kebaikan jadi bahan tertawaan.
Tapi, jangan berdusta..
Jangan katakan aku belum siap!
dirimu adalah islam/muslimah, dan berhaq atas kebahagiaannya
maka penuhilah haqmu kepada Allah
penuhi perintah-Nya
Saudariku,
jika seorang shaleh mencintaimu karena Allah,
Maka ia pun akan membencimu karena Allah..
Saudariku, jangan hiasi bibirmu dengan kemunafikan
Jangan lusuhi wajahmu dengan kata-kata; "kuingin jilbabi hatiku dulu"
Aku bosan dengan kata-kata itu! kami jenuh dengan kata-kata itu.
Tunggu..
Tunggu sebentar, jangan berhenti
Coba renungkanlah sejenak.
.
Sebentar saja, bayangkan..
Bayangkan dirimu yang cantik itu sedang berdiri gemetar
Di bibir jurang neraka..
Apakah kalian mengira malaikat Zabanniyyah akan tergoda,
Lalu mengurungkan niatnya untuk melemparkanmu keneraka???
Apakah kalian mengira lembar demi lembaran rambut kalian itu
Akan terbebas dari jilatan api neraka yang menyala-nyala..
Apakah kalian mengira keindahan leher yang kalian pertontonkan
Kepada kami itu akan kebal dengan api neraka..
Apakah kalian kira seindah lengan yang selalu cocok
Dengan segala mode itu akan tahan panas api neraka..
Apakah kalian kira betis indah kalian itu
Akan lepas dari jeratan panasnya api neraka...
Ingatlah tentang malaikat-malaikat pencatat yang setiap saat teliti dan
menulis setiap dosa-dosa yang terlupakan..
Saat kalian tak sadar aurat itu kami lihat?
Lupakanlah, neraka itu..
Jika kalian bosan mendengarnya.
Lupakan saja, seperti orang orang kafir yang melupakannya..
Sesungguhnya kami sangat takut..
Apakah kalian tidak kasihan kepada kami?
Renungkanlah pertanyaan ini; apakah benar,
kalian ingin mengajak kami ke neraka
Seperti pekerjaan harian iblis-iblis terlaknat itu?
Apakah kalian tidak sadar,..
Dengan mengumbar bagian bagian tubuh kalian itu..
Kalian telah membantu proyek iblis mengikis habis iman kami,
menggoyah-goyahkan pilar-pilar Iman kami,
bahkan meruntuhkannya.
Istaghfiru/ minta ampunlah kpd Allah.
Apakah kalian tidak takut lagi Neraka?
Subhanallah..
Aku takut mendengarnya,
Maafkan aku, saudariku
Maafkan sekali lagi,
Sungguh aku membenci dirimu, diriku dan semua orang
Yang bergelimang dalam kesalahan. Mereka yang hanya bisa
Mencibir saat kebenaran itu diperdengarkan..
Tidak ada hitam di hatiku, Aduhai..
Aku hanya ingin menyentuh hatimu dan membisikan sekali lagi
Siksa neraka itu berat saudariku..
Aku ingin kalian pahami, bahwa kami ini sesungguhnya sangatlah lemah
Kami sangat teramat lemah..
Hati kami bisa gemetar saat kalian lewat di depan kami
Hati kami kadang gemetar hanya mendengar suara tawa kalian
Kadang berdebar hebat saat bayangan keindahan itu
Melintasi benak kami.
Kami jujur, kami kadang membayangkannya berulang-ulang..
Bahkan mengganggu shalat kami.
Apalagi saat bentuk tubuh kalian itu sengaja disuguhkan
Dengan berbagai tatanan.
Kami pasti tidak bisa berkata-kata. Yah, begitulah kami..
Engkau pasti senang, mendengarnya..
Atau kalian sedang membisikan sesuatu?
Iyah kalian pasti ingin menyalahkan kami,
Kalian tidak salah, kalian adalah mahkota-mahkota terindah di bumi ini
Kudengar kalian juga calon calon bidadari penghuni syurga
Bahkan kudengar bidadari syurgapun iri kepadamu..
Aku ingin kalian menjadi bidadari itu,
Tapi, ingat di syurga itu bersih
Disana tidak ada bibir-bibir kotor yang pintar bersilat lidah
Disaat perintah (berjilbab) datang
Jangan berkata Kuingin Jilbabi hatiku dulu!!!
Karena hatimu tidak akan menggoda kami yang lemah ini...
Saudariku,
Hati kalian adalah urusan kalian..
Urusanmu dengan RABBmu
Katakan saja sesukamu
Katakan ku ingin jilbabi hatiku dulu..
Teruslah katakan begitu, jika kalian benar..
Hiasi dulu indah wajahmu dengan jilbab yang baik.
Semoga setelah auratmu terlindungi hidayah akan menemuimu
Disaat hatimu mulai teduh
Semoga kata-kata pedas ini menyentuhmu,
Maafkan aku atas sesuatu yang menyayatmu
Semoga tetesan darah dari luka itu kelak menjadi saksi di akhirat
MENJADI SAKSI BAHWA HARI INI ADALAH PERUBAHAN!
Ini harus kami katakan, berulang..
Karena kami merindukan kalian; wahai wanita-wanita shalehah...
Kami merindukan kalian..
Jaga kehormatan dan kemuliaan kalian
Jangan jadikan anugerah kecantikan itu menjadi fitnah
Semoga Allah melembutkan hatimu,
Semoga ini tidak melukai hatimu wahai saudariku,
Jika ada darah yang menetas disudut hatimu yang syahdu,
Silahkan persalahkan kami, cacilah tulisan ini..
Semoga engkau mengingatnya lebih lama
Agar hatimu tetap hangat
Agar hati itu tidak mati sebelum tiba kematian sesungguhnya
Agar kalian tidak lupa
Bahwa waktu demi waktu..
Menit demi menit..
Jam demi jam,
Hari demi hari dan..
Tahun demi tahun.. !
Saat kalian lupa atas jilbab kalian, ada dua malaikat pencatat
Yang tidak pernah lupa mencatat dosa yang kalian tebarkan.
Ketahuilah,
Malaikat Zabaniyyah itu tidaklah ramah.
Api neraka tidak pernah basa-basi
Tentu ku mengerti jika hati itu sakit, saat ini
Dan air garam hanya akan terasa sakit di atas kulit yang terdapat luka.
Air garam hanya akan menyayat kulit yang berpenyakit,
Insya Allah air garam tidak akan terasa sakit di kulit yang sehat....
Sederhana, hati itu memang tidak sehat,
Alias sakit.
Sungguh saudariku,
Inilah hukum Allah,
Dan kewajiban itu bukan paksaan.
Ia hanya sebuah pengkondisian, agar engkau menemui kenikmatan.
Ingatlah wahai saudari-saudariku tercinta.
Bahwasannya jika Allah ta'ala menjadikan Islam itu mudah,
Tidak berarti hal wajib bisa menjadi Sunnah...
Dan jika berjilbab itu wajib, maka itu adalah sebuah ketetapan
Yang harus diterima.
Dan bagi siapa saja yang enggan, dosa tetap ditulis.. Hari demi hari..
Ku yakin tidak ada hati yang menolak,
Meski kenyataan bibir akan menolak dengan seribu alasan..
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata"
(Qs.Al Ahzab 35)
Tutuplah auratmu, sebelum kain kafan memaksamu
Untuk menutupinya..
Bagimu yang telah berjilbab
Berbahagialah dengan keteduhannya,
Semoga keistiqamahan menyertaimu saudariku..
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar"
(Al Ahzab 35)..
dari sini
Sentuhan dari hatiku yang terdalam,
Sapaan dari hati kami, para lelaki yang mengagumi keindahan.
Semoga Allah melembutkan hati saudari, wahai calon bidadari yang dirahmati
Wahai calon-calon istri shalehah kebanggaan Islam..
Wahai kaum hawa yang di dadanya
Telah tumbuh tunas-tunas Iman.
Wahai muslimah yang hatinya bersenandung kerinduan.
Kerinduan untuk kembali ke sebuah kampung halaman (syurga)
Dimana Adam dan Istrinya Hawa dimuliakan..
Dalam hijab kedamaian
Damai..
Damailah wahai dawai hati
Jangan engkau ingkari atau berkata enggan kembali
Karena pasti.. yah, pasti kalian akan kembali.
Sungguh bait sederhana ini kutulis dari irisan hati, menanti
Menanti engkau kembali, antiiy (engkau saudariku).
Seruan ini kutulis dari hatiku
Biarkan syair kecilnya mengenali, menyapa, dan menggetarkanmu..
Tentu saja, kami tidak mengajak wanita-wanita pembangkang
Yang menolak cahaya agung Al Islam.
Kami tidak menyeru penghuni biara-biara kesesatan, atau
Wanita-wanita malam metropolitan
Kami juga tidak menyeru kepada hati yang telah keras membatu,
Lalu Allah mengunci mati semua pintunya..
Syair bebas ini memang untukmu, untukmu yang masih mendengar..
Kami tidak menyeru kepada mereka yang biasanya tertawa
Saat seruan berhijab/menutup aurat datang..
Biarkan saja mereka terus dilanda gelisah!
Hingga azab Allah mematahkan harapannya..
Semoga Hidayah Allah segera menyapanya..
Aku menyeru dengan kelembutan, hanya kepada hati-hati yang lembut..
Mencoba merayu dari sudut bisu,
Mengintip celah hidayah diantara hati hati yang resah
Sebelum keresahan itu pecah..menjadi amarah dan murka-Nya
Aku percaya hatimu lembut,
Selembut tutur bahasa, seteduh indah tatapan..
Aku pun tahu kalian sebenarnya iri..
Iyah, kalian begitu iri..
Kalian iri, terpesona saat melihat hamba Allah lain
Bersahaja dengan jilbabnya
Istiqamah dan di manja dengan kerudungnya..
Begitu mempesonakan mata dengan kebaya-nya
Jujurlah bahwa kalian gelisah..
Kami pun paham, betapa beratnya harga yang harus kalian tukar..
Memilih istiqamah saat semua mencela..
Menjadi baik saat kebaikan jadi bahan tertawaan.
Tapi, jangan berdusta..
Jangan katakan aku belum siap!
dirimu adalah islam/muslimah, dan berhaq atas kebahagiaannya
maka penuhilah haqmu kepada Allah
penuhi perintah-Nya
Saudariku,
jika seorang shaleh mencintaimu karena Allah,
Maka ia pun akan membencimu karena Allah..
Saudariku, jangan hiasi bibirmu dengan kemunafikan
Jangan lusuhi wajahmu dengan kata-kata; "kuingin jilbabi hatiku dulu"
Aku bosan dengan kata-kata itu! kami jenuh dengan kata-kata itu.
Tunggu..
Tunggu sebentar, jangan berhenti
Coba renungkanlah sejenak.
.
Sebentar saja, bayangkan..
Bayangkan dirimu yang cantik itu sedang berdiri gemetar
Di bibir jurang neraka..
Apakah kalian mengira malaikat Zabanniyyah akan tergoda,
Lalu mengurungkan niatnya untuk melemparkanmu keneraka???
Apakah kalian mengira lembar demi lembaran rambut kalian itu
Akan terbebas dari jilatan api neraka yang menyala-nyala..
Apakah kalian mengira keindahan leher yang kalian pertontonkan
Kepada kami itu akan kebal dengan api neraka..
Apakah kalian kira seindah lengan yang selalu cocok
Dengan segala mode itu akan tahan panas api neraka..
Apakah kalian kira betis indah kalian itu
Akan lepas dari jeratan panasnya api neraka...
Ingatlah tentang malaikat-malaikat pencatat yang setiap saat teliti dan
menulis setiap dosa-dosa yang terlupakan..
Saat kalian tak sadar aurat itu kami lihat?
Lupakanlah, neraka itu..
Jika kalian bosan mendengarnya.
Lupakan saja, seperti orang orang kafir yang melupakannya..
Sesungguhnya kami sangat takut..
Apakah kalian tidak kasihan kepada kami?
Renungkanlah pertanyaan ini; apakah benar,
kalian ingin mengajak kami ke neraka
Seperti pekerjaan harian iblis-iblis terlaknat itu?
Apakah kalian tidak sadar,..
Dengan mengumbar bagian bagian tubuh kalian itu..
Kalian telah membantu proyek iblis mengikis habis iman kami,
menggoyah-goyahkan pilar-pilar Iman kami,
bahkan meruntuhkannya.
Istaghfiru/ minta ampunlah kpd Allah.
Apakah kalian tidak takut lagi Neraka?
Subhanallah..
Aku takut mendengarnya,
Maafkan aku, saudariku
Maafkan sekali lagi,
Sungguh aku membenci dirimu, diriku dan semua orang
Yang bergelimang dalam kesalahan. Mereka yang hanya bisa
Mencibir saat kebenaran itu diperdengarkan..
Tidak ada hitam di hatiku, Aduhai..
Aku hanya ingin menyentuh hatimu dan membisikan sekali lagi
Siksa neraka itu berat saudariku..
Aku ingin kalian pahami, bahwa kami ini sesungguhnya sangatlah lemah
Kami sangat teramat lemah..
Hati kami bisa gemetar saat kalian lewat di depan kami
Hati kami kadang gemetar hanya mendengar suara tawa kalian
Kadang berdebar hebat saat bayangan keindahan itu
Melintasi benak kami.
Kami jujur, kami kadang membayangkannya berulang-ulang..
Bahkan mengganggu shalat kami.
Apalagi saat bentuk tubuh kalian itu sengaja disuguhkan
Dengan berbagai tatanan.
Kami pasti tidak bisa berkata-kata. Yah, begitulah kami..
Engkau pasti senang, mendengarnya..
Atau kalian sedang membisikan sesuatu?
Iyah kalian pasti ingin menyalahkan kami,
Kalian tidak salah, kalian adalah mahkota-mahkota terindah di bumi ini
Kudengar kalian juga calon calon bidadari penghuni syurga
Bahkan kudengar bidadari syurgapun iri kepadamu..
Aku ingin kalian menjadi bidadari itu,
Tapi, ingat di syurga itu bersih
Disana tidak ada bibir-bibir kotor yang pintar bersilat lidah
Disaat perintah (berjilbab) datang
Jangan berkata Kuingin Jilbabi hatiku dulu!!!
Karena hatimu tidak akan menggoda kami yang lemah ini...
Saudariku,
Hati kalian adalah urusan kalian..
Urusanmu dengan RABBmu
Katakan saja sesukamu
Katakan ku ingin jilbabi hatiku dulu..
Teruslah katakan begitu, jika kalian benar..
Hiasi dulu indah wajahmu dengan jilbab yang baik.
Semoga setelah auratmu terlindungi hidayah akan menemuimu
Disaat hatimu mulai teduh
Semoga kata-kata pedas ini menyentuhmu,
Maafkan aku atas sesuatu yang menyayatmu
Semoga tetesan darah dari luka itu kelak menjadi saksi di akhirat
MENJADI SAKSI BAHWA HARI INI ADALAH PERUBAHAN!
Ini harus kami katakan, berulang..
Karena kami merindukan kalian; wahai wanita-wanita shalehah...
Kami merindukan kalian..
Jaga kehormatan dan kemuliaan kalian
Jangan jadikan anugerah kecantikan itu menjadi fitnah
Semoga Allah melembutkan hatimu,
Semoga ini tidak melukai hatimu wahai saudariku,
Jika ada darah yang menetas disudut hatimu yang syahdu,
Silahkan persalahkan kami, cacilah tulisan ini..
Semoga engkau mengingatnya lebih lama
Agar hatimu tetap hangat
Agar hati itu tidak mati sebelum tiba kematian sesungguhnya
Agar kalian tidak lupa
Bahwa waktu demi waktu..
Menit demi menit..
Jam demi jam,
Hari demi hari dan..
Tahun demi tahun.. !
Saat kalian lupa atas jilbab kalian, ada dua malaikat pencatat
Yang tidak pernah lupa mencatat dosa yang kalian tebarkan.
Ketahuilah,
Malaikat Zabaniyyah itu tidaklah ramah.
Api neraka tidak pernah basa-basi
Tentu ku mengerti jika hati itu sakit, saat ini
Dan air garam hanya akan terasa sakit di atas kulit yang terdapat luka.
Air garam hanya akan menyayat kulit yang berpenyakit,
Insya Allah air garam tidak akan terasa sakit di kulit yang sehat....
Sederhana, hati itu memang tidak sehat,
Alias sakit.
Sungguh saudariku,
Inilah hukum Allah,
Dan kewajiban itu bukan paksaan.
Ia hanya sebuah pengkondisian, agar engkau menemui kenikmatan.
Ingatlah wahai saudari-saudariku tercinta.
Bahwasannya jika Allah ta'ala menjadikan Islam itu mudah,
Tidak berarti hal wajib bisa menjadi Sunnah...
Dan jika berjilbab itu wajib, maka itu adalah sebuah ketetapan
Yang harus diterima.
Dan bagi siapa saja yang enggan, dosa tetap ditulis.. Hari demi hari..
Ku yakin tidak ada hati yang menolak,
Meski kenyataan bibir akan menolak dengan seribu alasan..
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata"
(Qs.Al Ahzab 35)
Tutuplah auratmu, sebelum kain kafan memaksamu
Untuk menutupinya..
Bagimu yang telah berjilbab
Berbahagialah dengan keteduhannya,
Semoga keistiqamahan menyertaimu saudariku..
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar"
(Al Ahzab 35)..
dari sini
SALAFI
Siapakah SALAFI itu?
# Salafi ialah setiap orang yg berada di atas manhaj Salaf dalam aqidah, syariat, akhlak, dan dakwah.
# Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin -rahimahullah- mengatakan, "Ahlussunnah wal jama'ah adalah orang yang mengikuti para salaf. Bahkan orang belakangan -sampai hari kiamat- jika ia berada di atas jalannya Nabi -shalallahu 'alaihi wasallam- dan para shahabatnya maka dia adalah SALAFI."
# Lajnah ad-Daimah yg diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- ketika ditanya, "Apakah yang dimaksud dengan salafiyyah dan bagaimana pendapat antum sekalian tentangnya?"
Maka Lajnah menjawab, "As-Salafiyyah adalah penisbatan kepada salaf, sedangkan salaf adalah para shahabat Rasulullah -shalallahu 'alaihi wasallam- dan para imam pembawa petunjuk pada masa tiga kurun pertama -semoga Allah meridhai mereka- yang disaksikan kebaikan oleh Rasulullah -shalallahu 'alaihi wasallam- melalui sabda beliau: Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya -shahih-).
Wallahua'lam.
# Dikutip dari Buku "MULIA DENGAN MANHAJ SALAF" karya Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Copas dari sini
Lanjutan>>>
Ciri- Ciri Wanita Salafiyah
Penulis: Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah
Sebuah kenikmatan yang besar tatkala seorang wanita muslimah diberikan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengenal dan kemudian berpegang teguh dengan aqidah serta manhaj salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Agar nikmat besar yang tiada taranya ini terus teguh di atasnya , maka wajib untuk dijaga dengan mensyukurinya. Di antara bentuk syukur tersebut adalah berusaha bersikap dan berhias dengan beberapa sifat yang menjadi kekhususan wanita salafiyah, yang tidak dimiliki oleh selain mereka.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah telah menjelaskan beberapa sifat dan perangai wanita salafiyah tersebut, di antaranya adalah:
1. Seorang wanita salafiyah itu berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam batas-batas kemampuan dia menurut pemahaman as-salafush shalih.
2. Seharusnya bagi seorang wanita salafiyah untuk bermuamalah dengan kaum muslimin dengan muamalah yang baik, dan bahkan juga terhadap orang-orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia,
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)
Dan Allah juga berfirman,
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa’: 58)
Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,
“Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil.” (Al-An’am: 152)
Dan Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi kerana Allah biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.” (An-Nisa’: 135)
3. Wajib pula bagi seorang wanita salafiyah untuk mengenakan pakaian Islam (yang sesuai dengan syari’at), dan menjauhi sikap tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Islam.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullah di dalam Musnadnya dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka.”
Dan Allah yang Maha Mulia telah berfirman tentang pakaian (yang syar’i) ini,
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri kaum mukminin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, keraa itu mereka tidak diganggu.” (Al-Ahzab: 59)
At-Tirmidzi meriwayatkan di dalam kitab Jami’nya dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Wanita itu aurat, jika dia keluar maka syaithan akan mengikutinya.”
4. Kami juga menasihatkan kepada wanita salafiyah untuk bersikap baik terhadap suaminya jika dia memang menginginkan kehidupan yang bahagia, kerana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Jika seorang suami mengajak isterinya untuk menuju tempat tidurnya (untuk hubungan) kemudian si istri tersebut enggan, maka Malaikat akan melaknatnya (si istri tersebut).” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dan dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dengan lafazh,
“… kecuali para penduduk langit akan murka kepadanya.”
5. Demikian pula hendaknya seorang wanita salafiyah itu menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan didikan yang Islami.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam shahih keduanya dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin (penanggung jawab), dan masing-masing kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya (menjadi tanggung jawabnya).”
Dan kemudian baginda menyebutkan tentang wanita, bahwa dia itu,
“Pemimpin (penanggungjawab) di rumah suaminya, dan dia akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggung jawab dia di rumahnya tersebut.”
Dan di dalam ash-Shahihain, dari shahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah ada seorang hamba yang diberi oleh Allah tanggung jawab, kemudian dia tidak mahu untuk menunaikannya dengan memberikan nasehat kepada siapa saja yang dipimpinnya itu, kecuali dia tidak akan mendapatkan mencium bau jannah.”
Sehingga tidak selayaknya bagi seorang wanita salafiyah itu tersibukkan dengan dakwah daripada memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.
6. Demikian juga seharusnya bagi seorang wanita salafiyah untuk meredhai hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, yaitu lebih utamanya seorang laki-laki daripada wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
“Dan janganlah kalian iri hati terhadap sesuatu yang dikurniakan Allah kepada sebahagian kalian, lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (An-Nisa’: 32)
Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh kerana Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (An-Nisa’: 34)
Dalam ash-Shahihain dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri), kerana sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, jika dibiarkan maka ia akan tetap bengkok.”
Maka sudah seharusnya bagi seorang wanita untuk bersabar terhadap ketentuan Allah ini kepadanya, berupa keutamaan laki-laki daripada wanita. Namun bukan bererti bahwa seorang laki-laki itu boleh “menghambakan” wanita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda –sebagaimana dalam Kitab Al-Jami karya Al-Imam At-Tirmidzi:
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para isteri), kerana mereka itu seperti tawanan kalian. Kalian tidak memiliki kekuasaan terhadap mereka sedikitpun selain itu. Ketahuilah bahwa kalian mempunyai hak-hak yang harus ditunaikan oleh isteri-isteri kalian, dan mereka juga mempunyai hak yang harus kalian tunaikan. Adapun hak kalian yang harus ditunaikan oleh isteri kalian adalah mereka tidak boleh mengizinkan seorangpun berada di tempat tidur kalian dan mereka tidak mengizinkan masuk ke dalam rumah kalian orang yang tidak kalian sukai. Sedangkan hak isteri kalian yang wajib kalian tunaikan adalah memberikan makanan dan pakaian dengan baik kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Dan dalam Kitab as-Sunan dan Musnad Al-Imam Ahmad dari shahabat Mu’awiyah bin Haidah, bahwa ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa hak isteri salah seorang di antara kami terhadap suaminya?” Baginda menjawab,
“Hendaknya engkau memberi makan kepadanya ketika engkau makan, engkau memberikan pakaian kepadanya ketika engkau berpakaian atau telah bekerja, jangan memukul wajahnya, jangan mencelanya, dan jangan menghajrnya (memboikotnya) kecuali di rumah saja.”
Maka, semoga Allah melimpahkan barakah-Nya kepada kalian, sudah semestinya bagi kita semua untuk saling membantu di dalam kebaikan. Seorang suami bergaul dengan isterinya dengan pergaulan yang Islami, membantu dia untuk menuntut ilmu dan berdakwah kepada Allah. Dan juga isteri hendaknya juga bergaul dengan suaminya dengan pergaulan yang Islami, membantunya untuk menuntut ilmu dan berdakwah di jalan Allah, serta membantunya dalam mengatur rumah tangga dengan baik. Kerana Allah ‘azza wajalla berfirman,
“Dan tolong-menolonglah kalian di atas kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2).
Wallahul Musta’an.
Dinukil dari Kitab Majmu’ Al-Fatawa An-Nisa’iyah karya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.
copas dari sini
Lannjutan>>>
Penisbatan seseorang sebagai AHLUSSUNNAH (SALAFI) itu jangan sampai menjadikan seseorang berbangga diri dan merasa aman dari adzab Allah, karena setiap orang pasti tidak pernah lepas dari dosa. Sekedar stempel dari makhluk, apalagi hanya dari pengakuan diri, itu bukan jaminan bahwa seseorang itu pasti masuk surga (tanpa hisab tanpa adzab). Penisbatan itu akan terbukti dengan amal perbuatan (baik amal hati dan atau amal anggota tubuh) masing-masing, apakah sesuai atau tidak dengan para salafushshalih?
Oleh karenanya, seimbangkan antara rasa takut (khauf) dan harap (raja')... Dan jangan bosan-bosan untuk terus menuntut ilmu syar'i, sehingga kita bisa semakin memperbaiki kualitas dan kuantitas amal kita dan kita benar-benar bisa menjadi AHLUSSUNNAH (SALAFI) yg sejati...
Wallahulmusta'an.
# Terinspirasi dari kajian Ust. Ahmad Zainuddin, Lc.
copas dari sini
# Salafi ialah setiap orang yg berada di atas manhaj Salaf dalam aqidah, syariat, akhlak, dan dakwah.
# Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin -rahimahullah- mengatakan, "Ahlussunnah wal jama'ah adalah orang yang mengikuti para salaf. Bahkan orang belakangan -sampai hari kiamat- jika ia berada di atas jalannya Nabi -shalallahu 'alaihi wasallam- dan para shahabatnya maka dia adalah SALAFI."
# Lajnah ad-Daimah yg diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- ketika ditanya, "Apakah yang dimaksud dengan salafiyyah dan bagaimana pendapat antum sekalian tentangnya?"
Maka Lajnah menjawab, "As-Salafiyyah adalah penisbatan kepada salaf, sedangkan salaf adalah para shahabat Rasulullah -shalallahu 'alaihi wasallam- dan para imam pembawa petunjuk pada masa tiga kurun pertama -semoga Allah meridhai mereka- yang disaksikan kebaikan oleh Rasulullah -shalallahu 'alaihi wasallam- melalui sabda beliau: Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya -shahih-).
Wallahua'lam.
# Dikutip dari Buku "MULIA DENGAN MANHAJ SALAF" karya Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Copas dari sini
Lanjutan>>>
Ciri- Ciri Wanita Salafiyah
Penulis: Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah
Sebuah kenikmatan yang besar tatkala seorang wanita muslimah diberikan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengenal dan kemudian berpegang teguh dengan aqidah serta manhaj salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Agar nikmat besar yang tiada taranya ini terus teguh di atasnya , maka wajib untuk dijaga dengan mensyukurinya. Di antara bentuk syukur tersebut adalah berusaha bersikap dan berhias dengan beberapa sifat yang menjadi kekhususan wanita salafiyah, yang tidak dimiliki oleh selain mereka.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah telah menjelaskan beberapa sifat dan perangai wanita salafiyah tersebut, di antaranya adalah:
1. Seorang wanita salafiyah itu berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam batas-batas kemampuan dia menurut pemahaman as-salafush shalih.
2. Seharusnya bagi seorang wanita salafiyah untuk bermuamalah dengan kaum muslimin dengan muamalah yang baik, dan bahkan juga terhadap orang-orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia,
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)
Dan Allah juga berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa’: 58)
Dan Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,
وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا
“Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil.” (Al-An’am: 152)
Dan Dia subhanahu wa ta’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيّاً أَوْ فَقِيراً فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيراً
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi kerana Allah biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.” (An-Nisa’: 135)
3. Wajib pula bagi seorang wanita salafiyah untuk mengenakan pakaian Islam (yang sesuai dengan syari’at), dan menjauhi sikap tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Islam.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullah di dalam Musnadnya dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka.”
Dan Allah yang Maha Mulia telah berfirman tentang pakaian (yang syar’i) ini,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri kaum mukminin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, keraa itu mereka tidak diganggu.” (Al-Ahzab: 59)
At-Tirmidzi meriwayatkan di dalam kitab Jami’nya dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
المَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu aurat, jika dia keluar maka syaithan akan mengikutinya.”
4. Kami juga menasihatkan kepada wanita salafiyah untuk bersikap baik terhadap suaminya jika dia memang menginginkan kehidupan yang bahagia, kerana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ
“Jika seorang suami mengajak isterinya untuk menuju tempat tidurnya (untuk hubungan) kemudian si istri tersebut enggan, maka Malaikat akan melaknatnya (si istri tersebut).” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dan dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dengan lafazh,
إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا
“… kecuali para penduduk langit akan murka kepadanya.”
5. Demikian pula hendaknya seorang wanita salafiyah itu menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan didikan yang Islami.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam shahih keduanya dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin (penanggung jawab), dan masing-masing kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya (menjadi tanggung jawabnya).”
Dan kemudian baginda menyebutkan tentang wanita, bahwa dia itu,
رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
“Pemimpin (penanggungjawab) di rumah suaminya, dan dia akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggung jawab dia di rumahnya tersebut.”
Dan di dalam ash-Shahihain, dari shahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ
“Tidaklah ada seorang hamba yang diberi oleh Allah tanggung jawab, kemudian dia tidak mahu untuk menunaikannya dengan memberikan nasehat kepada siapa saja yang dipimpinnya itu, kecuali dia tidak akan mendapatkan mencium bau jannah.”
Sehingga tidak selayaknya bagi seorang wanita salafiyah itu tersibukkan dengan dakwah daripada memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.
6. Demikian juga seharusnya bagi seorang wanita salafiyah untuk meredhai hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, yaitu lebih utamanya seorang laki-laki daripada wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ
“Dan janganlah kalian iri hati terhadap sesuatu yang dikurniakan Allah kepada sebahagian kalian, lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (An-Nisa’: 32)
Allah subhanahu wata’ala juga berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh kerana Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (An-Nisa’: 34)
Dalam ash-Shahihain dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ،
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri), kerana sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, jika dibiarkan maka ia akan tetap bengkok.”
Maka sudah seharusnya bagi seorang wanita untuk bersabar terhadap ketentuan Allah ini kepadanya, berupa keutamaan laki-laki daripada wanita. Namun bukan bererti bahwa seorang laki-laki itu boleh “menghambakan” wanita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda –sebagaimana dalam Kitab Al-Jami karya Al-Imam At-Tirmidzi:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ ، لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ غَيْرَ ذَلِكَ أَلَا إِنَّ لَكُمْ فِيْ نِسَاءِكُمْ حَقًّا ، أَلَا وَإِنَّ لِنِسَائِكُمْ عَلَيَكُمْ حَقًّا ، فَحَقُّكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ ، وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي طَعَامِهِنَّ وَ كِسْوَتِهِنَّ
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para isteri), kerana mereka itu seperti tawanan kalian. Kalian tidak memiliki kekuasaan terhadap mereka sedikitpun selain itu. Ketahuilah bahwa kalian mempunyai hak-hak yang harus ditunaikan oleh isteri-isteri kalian, dan mereka juga mempunyai hak yang harus kalian tunaikan. Adapun hak kalian yang harus ditunaikan oleh isteri kalian adalah mereka tidak boleh mengizinkan seorangpun berada di tempat tidur kalian dan mereka tidak mengizinkan masuk ke dalam rumah kalian orang yang tidak kalian sukai. Sedangkan hak isteri kalian yang wajib kalian tunaikan adalah memberikan makanan dan pakaian dengan baik kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Dan dalam Kitab as-Sunan dan Musnad Al-Imam Ahmad dari shahabat Mu’awiyah bin Haidah, bahwa ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa hak isteri salah seorang di antara kami terhadap suaminya?” Baginda menjawab,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، أَوِ اكْتَسَبْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ
“Hendaknya engkau memberi makan kepadanya ketika engkau makan, engkau memberikan pakaian kepadanya ketika engkau berpakaian atau telah bekerja, jangan memukul wajahnya, jangan mencelanya, dan jangan menghajrnya (memboikotnya) kecuali di rumah saja.”
Maka, semoga Allah melimpahkan barakah-Nya kepada kalian, sudah semestinya bagi kita semua untuk saling membantu di dalam kebaikan. Seorang suami bergaul dengan isterinya dengan pergaulan yang Islami, membantu dia untuk menuntut ilmu dan berdakwah kepada Allah. Dan juga isteri hendaknya juga bergaul dengan suaminya dengan pergaulan yang Islami, membantunya untuk menuntut ilmu dan berdakwah di jalan Allah, serta membantunya dalam mengatur rumah tangga dengan baik. Kerana Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kalian di atas kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2).
Wallahul Musta’an.
Dinukil dari Kitab Majmu’ Al-Fatawa An-Nisa’iyah karya Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.
copas dari sini
Lannjutan>>>
Penisbatan seseorang sebagai AHLUSSUNNAH (SALAFI) itu jangan sampai menjadikan seseorang berbangga diri dan merasa aman dari adzab Allah, karena setiap orang pasti tidak pernah lepas dari dosa. Sekedar stempel dari makhluk, apalagi hanya dari pengakuan diri, itu bukan jaminan bahwa seseorang itu pasti masuk surga (tanpa hisab tanpa adzab). Penisbatan itu akan terbukti dengan amal perbuatan (baik amal hati dan atau amal anggota tubuh) masing-masing, apakah sesuai atau tidak dengan para salafushshalih?
Oleh karenanya, seimbangkan antara rasa takut (khauf) dan harap (raja')... Dan jangan bosan-bosan untuk terus menuntut ilmu syar'i, sehingga kita bisa semakin memperbaiki kualitas dan kuantitas amal kita dan kita benar-benar bisa menjadi AHLUSSUNNAH (SALAFI) yg sejati...
Wallahulmusta'an.
# Terinspirasi dari kajian Ust. Ahmad Zainuddin, Lc.
copas dari sini
ADAB BERBICARA, MENDENGAR, DAN MENOLAK
Bismillah..
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat." (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
------------------------------ ------------------------------ --------------------
ADAB BERBICARA
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam disebutkan:
"Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam." (HR Bukhari Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
"Bahwasanya perkataan rasuluLLAH Sholalllohu 'Alaihi Wasalam itu selalu jelas sehingga bias difahami oleh semua yang mendengar." (HR Abu Daud)
3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara." Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam: "Orang2 yang sombong." (HR Tirmidzi dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena kuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa'il:
Adalah Ibnu Mas'ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas'ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas'ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq 'alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam jika berbicara maka beliau Sholalllohu 'Alaihi Wasalam mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau Sholalllohu 'Alaihi Wasalam mendatangi rumah seseorang maka beliau Sholalllohu 'Alaihi Wasalam pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat." (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat." (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya." (HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Bukanlah seorang mu'min jika suka mencela, mela'nat dan berkata-kata keji." (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa." (HR Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya." (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat." (HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara." (HR Muttafaq 'alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam: "Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!" (2 kali), lalu kata beliau Sholalllohu 'Alaihi Wasalam: "Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya." (HR Muttafaq 'alaih dan ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma'mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)
ADAB MENDENGAR
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara
ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.
Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, 'alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.
------------------------------
ADAB BERBICARA
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam disebutkan:
"Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam." (HR Bukhari Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
"Bahwasanya perkataan rasuluLLAH Sholalllohu 'Alaihi Wasalam itu selalu jelas sehingga bias difahami oleh semua yang mendengar." (HR Abu Daud)
3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara." Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam: "Orang2 yang sombong." (HR Tirmidzi dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena kuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa'il:
Adalah Ibnu Mas'ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas'ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas'ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq 'alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam jika berbicara maka beliau Sholalllohu 'Alaihi Wasalam mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau Sholalllohu 'Alaihi Wasalam mendatangi rumah seseorang maka beliau Sholalllohu 'Alaihi Wasalam pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat." (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat." (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya." (HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Bukanlah seorang mu'min jika suka mencela, mela'nat dan berkata-kata keji." (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa." (HR Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya." (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat." (HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam:
"Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara." (HR Muttafaq 'alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam: "Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!" (2 kali), lalu kata beliau Sholalllohu 'Alaihi Wasalam: "Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya." (HR Muttafaq 'alaih dan ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma'mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi Sholalllohu 'Alaihi Wasalam memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)
ADAB MENDENGAR
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara
ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.
Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, 'alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.
Langganan:
Postingan (Atom)
