Sabtu, 04 Januari 2014

Keluarga yang Lama Tak Terjamah

Yyap!
Hhmmm...hari ini malas badai buat blajar..
Sekarang saya mau bercerita tentang yang saya lalui hari ini.
Hemm,, jadi critanya hari ini saudara bapak saya alias tante saya meninggal. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Berita ini mengejutkan sekali, sangat sangat mengejutkan, plus menggalaukan. Kenapa menggalaukan? Yaaa seperti yang seluruh dunia telah mengetahuinya, ortu saya kan sudah cerai. Sejak hhmmm.....kelas 5, kelas 6, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, kuliah 3,5 tahun, dan sekarang saya sudah nganggur kurang lebih setengah tahun (hiks), jadi kira-kira sudah kurang lebih 12 tahun yang lalu bapak saya pergi. Meninggalkan kami. Iya, meninggalkan kami. Mereka sudah cerai. Nnah,, semenjak mereka cerai ini, kami anak-anak dari mereka harus melewati masa-masa yang sulit! Liat orang lain dianter sama bapaknya, galau. Denger orang lain bercerita tentang bapaknya, galau. Mencium asap rokok, galau (ehh). Iya, karena bapak saya dulu itu perokok. Ah pokoknya serba galau..
Di rumah (saya tinggalnya sama mama), penuh dengan gejolak. Kita berbuat salah, "Ini pasti kamu tiru dari sifat bapakmu!". Padahal ini karena malas menyapu rumah loh. Dikit-dikit "Memang karena anaknya bapaknya", "Lah, memang sifatnya bapaknya begitu kok, nda bennerr". Kyaaaaaaaa!!!! (pengen teriak!). Emang kali ya, bapak saya nggak bennerr (ehh).
Belum lagi kalau kita habis silaturahmi sama bapak dan keluarga disana. Kayak mau kiamat rasanya. Nah,,seperti hari ini. Karena tante saya meninggal, ya kami (minimal saya) harus ke sana dong. Sebenarnya sempat galau juga, nggak kesana, nggak enak sama keluarga. Kalau saya kesana, pasti mama bakal sensitif lagi. Tuh...ortu cerai itu bikin galau banget kan? Sampai keluarga dekat gini meninggal aja sampai bikin galau setengah mati. Lebay hehehe..
Akhirnya saya putuskan kesana. Toh melayat juga bagus.Kita jadi ingat kematian. Jadi saya mulai siap-siap.
Di tengah saya lagi siap-siap, tiba-tiba mama bersuara. "Mau kemana Ipa?". "Mau melayat toh Ma..". "Tidak usah kesana." Tapi saya tetap pergi. Saya kesana sama tante (saudara mama saya).
Yoshh! Singkat cerita saya mendarat disana dengan aman. Saya turun dari pete-pete (ehh) dan berjalan masuk ke rumah keluarga. Dari kejauhan saya melihat kakek. Dia begitu kurus. Hitam. Kecil (cucu kundang ckckck) dan sepertinya penglihatan dan pendengarannya sudah kurang berfungsi. Saya mempercepat langkah saya ke kakek, lalu saya salaman dan menyentuhkan pipi saya ke tangannya. Dia cuma berekspresi bingung. Saya tersenyum padanya, dan dia terpesona (ehh) hahahaa.. Saya katakan padanya, "Aji, saya Ipa.." Dia tetap dengan ekspresi bingungnya. Tapi sekarang ekspresinya lebih datar. Entah dia mendengar ucapanku atau tidak. Kemudian tante saya menyusul bersalaman dengan kakek. Sama. Ekspresinya tidak berubah. Mungkin dia benar-benar lupa pada kami. Hmmm iya sih, 12 tahun kan bukan waktu yang singkat.
Kemudian kami pamit ke rumah tante yang meninggal. Kebetulan rumahnya berdekatan. Dari kejauhan orang-orang yang melihat saya terlihat seperti berpikir keras sambil mengingat-ingat. Mungkin mereka heran, siapa itu yang datang. Dengan jilbab besarnya yang berwarna merah maron muda. Dengan angin yang membuat jilbabnya seperti berkibar. Bendera kali hahaha.. Ya sudah, saya semakin dekat. Agak grogi sih dipandangi seperti ini, tapi mau berbalik dan pulang ke rumah juga tidak mungkin. Saya mengumpulkan keberanian untuk terus melangkah maju. Dan akhirnya saya tiba di rumah duka. Orang-orang memandangiku heran. Mereka berusaha tersenyum padaku. Tapi senyum mereka juga tak bisa menutupi kalau mereka memang sedang heran dan bingung ini siapa yang datang. Kok cantik sekali. (ehh)
Untung saja, mereka belum sepenuhnya lupa sama wajah tante saya. Mereka mengenalinya! Alhamdulillah.... Akhirnya tante saya yang mengumumkan kalau saya ini anaknya bapak dan mama saya (yaiyalah!). Hahhaa...maksud saya begini, tante memberitahu orang-orang disana, kalau saya ini Musdalifah, anak dari Pak Abdul Kadir dan Ibu Hasni. Alhamdulillah setelah mendengar hal tersebut ingatan mereka kembali dan langsung menyambut saya *sujud syukur* hehehe. Banyak yang mengatakan, "oooh Ipa yang dulu masih kecil itu ya...waah sudah besar ya.." Saya cuma bilang "Iya tante..hehhee" sambil menyalami mereka satu persatu. "Tadi itu kita bingung, tidak dikenali tadi, karena sudah cantik.." Saya langsung kelilipan. Dalam hati saya berkata, "Iya tante, itik kini telah berubah menjadi angsa hehehhehehehehehehehehe". 'hehehhehehehehehehehehe' ku ini membuat wajahku mengeluarkan senyum ongol.
Yyaapp! lolos tahap 1. Saya akhirnya teridentifikasi. Kemudian saya mendekati jenazah, dan mendapati tante saya yang dulunya geemuukk sekali, sekarang jenazahnya kuuruuuss sekali. Agak heran juga, tapi setelah mengetahui sejarah penyakitnya hingga ajal menjemputnya, semua terasa wajar. Iya, dia menderita kanker payudara yang telah menyebar ke seluruh tubuh, dan terakhir didiagnosis kankernya telah bersarang juga di liver (hatinya). Kasihan tante. Saya tidak pernah menjenguknya di rumah sakit. Hiks.
Kulihat di sekeliling, saya temukan sepupu-sepupu saya (anak dari tante yang meninggal). Ini cuma tebakan sebenarnya, karena saya juga sudah tidak tahu bagaimana perkembangan sepupu-sepupu saya, bagaimana wajah mereka sekarang. Tapi memang sepertinya mereka itu anaknya tante, karena mereka terlihat begitu berduka. Mata mereka sembab dan sangat diliputi kesedihan. Mereka tak henti-hentinya menangis dan memegangi jenazah ibu mereka. Sungguh sangat menyedihkan.
Setelah sekitar satu jam lebih kami di rumah duka, sambil berbincang-bincang dengan keluarga yang datang, kami memutuskan untuk pulang. Kami pamit sama keluarga disana. Banyak yang menanyakan, "Sudah ketemu bapakmu? Tadi dia ada di luar. Sudah lihat?" Saya cuma tersenyum sambil mengatakan "Belum tante hehehe".
Kami keluar dari rumah duka. Tidak jauh dari sana, saya melihat sosok yang sangat familiar. Tapi bentuknya sedikit berbeda. Dia ini kurus, pendek, hitam, dan dia tersenyum padaku. Batinku berteriak "Bapak! Itu Bapak!" Kupercepat langkahku dan salim-salim cipika-cipiki sama bapak. Kupandangi wajahnya..iya..sosok ini... Saya tersenyum padanya. Kemudian kupandangi di sekeliling, ternyata semua mata tertuju padaku. Tiba-tiba grogi dan salting, saya malah menepuk pundaknya Bapak (haduhh -__- kayak ke teman saja). Sadar akan kelainanku, saya hentikan tepukan pundakku dan pura-pura buru-buru pulang. Tapi setelah saya melewati Bapak, saya bertemu dengan tanteku (saudara bapak) yang lain. Kami berjalan bersama (apa sih??). Kemudian saya melihat kakek lagi. Masih disana. Tetap di kursinya. Tapi sekarang sudah banyak orang di sekelilingnya. Saya berniat pamit dulu sama kakek sebelum pulang, terserah dia mau kenal atau tidak. Yang jelas pamit. Tante pamit duluan sama kakek sambil menyalami tangannya dan menanyakan keadaannya. Tiba-tiba dengan suara keras, tante saya yang dari bapak tadi mengatakan, "Masih kenal sama ini? Ini adeknya Hasni, yang di Tamangapa." Barulah kakek berekspresi (mungkin dia mendengar perkataan tante tadi), dia mengatakan "Oooh...bagaimana keadaanmu disana? Sehat semua?" Dia mengatakan itu sambil tersenyum. Uuuhh kakekkuu love youu.. *ehh*. Tante menjawab, "Iya alhamdulillah semua sehat..kalau Aji bagaimana keadaannya?" Kakek juga menjawab, "Yaa begitulah..sudah sakit-sakitan.." Kemudian giliran saya yang pamit. Kupegang tangannya, lalu kucium dan kutempelkan di pipi. Kemudian kupandangi wajahnya, kukatakan "Aji..." Lalu tante bilang, "Itu anaknya Kadir..yang kedua.." Kakek lalu memandangi wajahku lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar.. Dia menangis.. Air matanya mengalir sangat deras dan tubuhnya terguncang. Lalu dia mencium kepalaku, dan akhirnya saya juga tidak bisa menahan air mata.. Kami sama-sama menangis. Orang-orang yang menyaksikan kami juga turut meneteskan air mata. "Saya sangat menginginkan supaya mama sama bapaknya tidak bercerai..tapi bapaknya tetap melakukannya.." Kata-kata kakek membuatku semakin bersedih karena harus teringat itu lagi. Saya menangis di atas tangan kakek. "Jadi kalian tinggal dimana nak? Semua di rumahnya mama?" Saya cuma menjawab "Iya, Kek.." Lalu kupandangi Bapak saya disana. Dia cuma memandang ke entah arah mana. Dia terdiam. Ada kesedihan yang disembunyikan wajahnya. Kemudian kubelai tangan kakek yang sudah sangat keriput sambil terus menangis. Lalu saya memutuskan untuk pamit. Sekali lagi kucium tangan kakek. Kakek menyuruhku untuk nginap tapi rasanya tidak bisa. Lalu kami betul-betul pamit dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
Singkat cerita saya sudah tiba di rumah, kakak saya baru  mau berangkat. Mama langsung menyambut dengan banyak pertanyaan, kujawab seadanya (semaksimal mungkin tidak memancing emosinya). Kuingatkan kakak untuk memperkenalkan diri ke kakek kalau bertemu nanti karena dia pasti sudah tidak kenal, dan kuingatkan juga untuk membawa uang (jangan kayak saya, cuma bawa diri ckckck..lupa siih). Yap mereka berangkat. Saya lalu ditanya-tanya sama mama, termasuk "Ketemu sama Bapakmu?" "Ketemu sama mama barumu?". Hhmmm..
Singkat cerita (lagi), mereka sudah kembali. Belum masuk mereka sudah ditanya-tanyai. Pertanyaan yang sama dengan yang ditujukan padaku tadi. Dan parahnya, pada pertanyaan "Jadi tadi Ammar ketemu sama nenek barunya?" Kakak saya malah menjawab "Iya..Ini ada jagung dari sana Ma.." Dan saat itulah, tiba-tiba gelap. Berawan. Mendung. Kilat menyambar-nyambar. Lalu mama bertanya lagi "Ooh..jadi sudah ada anaknya juga?" dengan suara yang bergetar. Saya yang saat itu tengah makan, merasakan aura yang berbeda. Horor. Diliputi rasa penasaran yang sangat besar, kupaksakan kepalaku untuk menoleh. Ternyata Mama waktu itu memang terlihat sangat seram. Pisau yang digunakannya untuk mengupas jagung terlihat seram, dan di wajahnya ada senyuman...senyuman aneh. Karena takut, saya lalu mengembalikan posisi kepala saya dan melanjutkan makan. Tiba-tiba saya merasakan perut saya muless.. Betul-betul pembicaraan dan suasana semacam ini sangat ampuh merusak sistem pencernaan. Kuselesaikan makanku lalu ke toilet (penting?).
Hhhm... suasana menyeramkan. Mama kembali menjadi sensitif dan menganggap salah semua yang kami lakukan. Rumah seakan-akan tidak bisa lagi disebut "baitiy jannatiy".
Malamnya, mama sedang nonton TV sambil berbaring. Lalu mama berkata "Ooh kalau orang sudah dari sana (dari keluarganya bapak), jadi malas mi sama mama. Kan ada mi mama barunya." Saya yang mendengarnya langsung secepat kilat ke sampingnya mama. "Bisanya itu mama hehehhee" sambil mijit-mijit mama. Mama lalu bercerita panjang lebar yang akhirnya membuat saya mengerti. Mengapa mama begitu sensitif dan tidak suka kalau anak-anaknya pergi mengunjungi atau hanya sekedar melayat ke keluarganya bapak. Perasaan. Ya, karena perasaan. Perasaan sedih yang mendalam. Perasaan kecewa yang sangat luar biasa. Dan mungkin sedikit perasaan benci yang lahir setelah rasa sedih dan kecewa itu bercampur. Saya tidak sengaja meneteskan air mata ketika mengetahui bagaimana sakitnya perasaan mama. Karena itulah mama sangat tidak suka. Karena itulah mama sangat protektif. Karena itulah mama sangat sensitif. Mama selalu tidak mengizinkan saya setiap kali saya meminta izin untuk keluar ke tempat yang jauh karena beliau sayang sama saya. Mama selalu "memaksa" saya untuk bisa selesai kuliah secepatnya karena mama punya misi yang sangat mulia. Mama selalu memarahi saya, karena dia ingin melihat anaknya menjadi baik. Saya menangis merenungi itu semua. Betapa dulu saya sangat sering jengkel sama mama. Astaghfirullah..
Tapi ada satu kalimat dari mama yang sangat sulit saya terima, "Kalau kamu sampai rela memaafkan orang yang telah membuangmu seperti bapakmu, sungguh kau sangat tidak adil, Ipa..."
Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Hhmm...beginilah nasib. Allah azza wa jalla telah menetapkan hal ini pada kami. Allah tidak pernah tidur. Allah tahu bagaimana kemampuan hambaNya. Dia tidak mungkin memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hambaNya. Dia tahu apa yang saya lakukan, ayah saya lakukan, dan yang semua orang lakukan. Dia Maha Melihat. Kewajiban bapak sebagai seorang ayah masih tetap dan akan terus berada di pundaknya. Semoga bapak suatu saat sadar akan hal ini, dan menjalankan kewajibannya kepada kami, anak-anaknya. Jangan terlalu lama LUPA sama kewajiban, Pak. Semoga bapak segera diberikan hidayah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar