Rabu, 26 Februari 2014

THOHURUN INSYAA ALLAAH

Bismillah..
Hari ini ngapain aja?
Hhmm... *mengingat-ingat*
Pagi tadi online fb, twitter, BBM, WhatsApp...setelah itu mandi, trus dengar kajian oleh Ustadz Dzulqarnain via streaming di syiartauhid.info, lalu ke rumah sakit untuk menjenguk keluarga yang sakit. Keluarga saya ini laki-laki (mungkin tepatnya bapak-bapak), dia mengidap penyakit tumor di bagian belakang lehernya. Agak lucu juga sih, soalnya keluarga saya ini kan tubuhnya kekar, penuh semangat, selalu tersenyum dan tertawa, jarang berbaring di atas tempat tidur pasien, lebih sering jalan-jalan kemana-mana, dan dia mengenakan baju kaos oblong + celana kain yang rapi di rumah sakit tersebut, tidak seperti orang sakit pada umumnya. Malah istrinya yang seperti pasien, soalnya di jidatnya ada perban karena luka. Ckckckk. Cerita istrinya, dokter juga pada heran, pasien ini yang mana sih? Terlebih kalau malam hari, dia menyuruh istrinya (yang sebenarnya tugasnya menjaga pasien) untuk tidur di atas ranjang pasien, dan dia yang tidur di bawah (di lantai beralaskan karpet). Untung bukan istrinya yang disuntik ketika tiba jadwalnya pemberian obat kepada pasien hihihihi..
Hemm... Tumor. Penyakit ini berbahaya jika dia tergolong tumor ganas.
Pada saat mengunjungi rumah sakit tadi, masyaAllah ternyata ada buanyakk sekali pasien tumor. Ada yang tumor pada lehernya yang pembengkakannya itu sampai melebihi ukuran besar dari kepala pasien tersebut, ada yang tumornya itu sudah menyebar ke seluruh kaki kanannya, ada yang tumornya pada bagian leher itu sudah meletus dan mengeluarkan darah (pasien yang ini katanya dokter sudah angkat tangan..tidak bisa ditangani lagi). Macam-macam. Ada juga pasien yang mungkin saking sakitnya tumor yang dia derita, dia tidak henti-hentinya meringis kesakitan. Syafakumullah...
Alhamdulillah tumor yang diderita oleh keluarga saya ini mungkin bukan yang tergolong ganas. Karena dia tampak sehat-sehat saja. Katanya juga benjolannya itu tidak sakit, cuma kadang tiba-tiba menjadi kaku dan membuat kepala dan lehernya agak nyeri.
Melihat keadaan semua pasien yang saya temui, saya jadi kepikiran dengan benjolan pada tubuh saya. Semoga ini hanya tumor jinak yang gampang penangananan dan penyembuhannya. Benjolan saya ini sudah cukup lama saya rasakan. Kira-kira sudah setahun lamanya. Iya, seingat saya Februari 2013 saya mulai mendeteksi kalau ada benjolan tersebut di tubuh saya. Saya lalu menceritakannya ke ibu saya. Ibu saya kaget mendengarnya. Dia mulai khawatir. Maklum karena keluarga dan teman ibu saya beberapa meninggal karena tumor dan kanker. Beliau mulai panik dan mencari tahu informasi mengenai benjolan tersebut. Waktu itu ukuran benjolannya sebesar kelereng. Jelas terasa keberadaannya.
Setelah mungkin berdiskusi dengan teman mengajarnya, Ibu saya menyuruh saya untuk meminum sari kunyit putih. Sari kunyit putih ini harus diminum setiap pagi. Cara pembuatannya gampang, jadi rimpang kunyit putihnya dibersihkan lalu diparut dan diseduh air panas. Setelah itu airnya disaring dan ampasnya tidak diambil. Sarinya ini diminum pas masih hangat. Dan rasanya....WAW sekali.. Pahit, panas, bau, keras, pokoknya tidak enak sekali. Pertama kali meminumnya, pas tegukan pertama, wuihh rasa-rasanya cairan tersebut langsung menuju otak saya dan membuat saya ingin memuntahkannya. Sangat tidak enak. Tapi harus diminum, sebagai upaya dan jalan untuk memperoleh kesembuhan dari Allah.. Selain itu, saya juga dibawa ke apotek Leo oleh ibu saya. Disana ibu saya menceritakan perihal benjolan saya. Oleh apoteker kami diberi Melia Propolis, katanya sudah banyak pasien tumor dan kanker, bahkan ada yang tumornya itu sudah mengeluarkan cairan semacam darah, dan setelah rutin minum melia propolis ini, tumornya tersebut perlahan-lahan mengering dan berkurang. Melia Propolis ini harus diminum 2 kali sehari, dengan kadar 5 tetes setiap kali minum.
Setelah sebulan lebih mengkonsumsi kedua obat tersebut secara rutin, saya merasa benjolan saya mengecil. Alhamdulillah. Dan karena kebetulan waktu itu saya tengah sibuk menyusun skripsi, saya jadi tidak rutin lagi meminum obatnya. Soalnya pembuatannya itu membutuhkan waktu, sementara kita lagi ngejar deadline, apalagi jika telah mengkonsumsi obat tersebut, badan menjadi lemas, serasa ingin tidur. Makanya waktu itu sempat tidak rutin bahkan sempat beberapa hari saya tidak meminumnya. Tidak lama kemudian saya merasa agak nyeri di bagian tersebut. Saya cek, ternyata benjolannya kembali membesar. Untung waktu itu saya sudah selesai wisuda. Saya kembali mengkonsumsi obat tersebut. Sampai berbulan-bulan saya konsumsi, benjolan tersebut tidak menunjukkan perubahan. Tidak mengecil dan tidak juga membesar.
Akhirnya saya dibawa ke dokter spesialis bedah tumor. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan kalau benjolan ini belum bisa dipastikan apakah membesarnya karena saya sedang pms atau memang karena penyakitnya. Kami diberikan resep obat dan disuruh datang lagi sepekan setelah bersih dari haid. Obatnya saya minum secara rutin. Keesokan harinya setelah pemeriksaan ke dokter ahli bedah tumor, saya mengalami haid. Saya sangat deg-degan. Brarti 2 pekan lagi saya dioperasi, pikirku. SEtelah selesai haid dan seminggu pun setelahnya, ibu mengecek lagi benjolan itu. Katanya benjolannya agak mengecil. Jadi, tidak usah dibawa ke doketr untuk dioperasi. Dan akhirnya saya tidak jadi dioperasi. Kami berhasil menghindar.
Begitu seterusnya hingga hari ini. Ketika menginjungi keluarga yang menderita tumor tadi, dan melihat keadaan pasien-pasien tumor yang lain, saya jadi takut. Saya menjadi khawatir. "Kalau ada benjolan pada tubuh, segera periksakan ke dokter. Segera ambil tindakan sebelum terlambat. Karena kalau sudah parah, maka akan susah ditangani." Kalimat ini sudah sangat sering saya dengar. Dan kalimat ini kembali diulangi oleh keluarga saya yang saya jenguk ini.
Saya menjadi bingung dan khawatir. Ibu menyuruh saya untuk tetap yakin, bakal disembuhkan oleh Allah jika saya memperbaiki sikap saya yang buruk, benjolan ini akan hilang dengan sendirinya walau tanpa operasi, dengan mengkonsumsi obat-obatan tersebut (yang dosisnya saja sebenarnya asal-asalan), karena sudah banyak teman dan kenalannya yang sembuh dengan jalan tersebut. Sementara kalimat yang menyuruh untuk menyegerakan tindakan (operasi) juga selalu terngiang-ngiang. Yang mana yang harus saya ikuti?
Pagi ini saya mencoba memberitahukan ibu tentang kekhawatiran saya. Tapi malah direspon negatif, katanya saya tidak pernah mau mendengar apa yang ibu katakan dan selalu tidak percaya pada perkataannya. Ya sudah kalau begitu saya percaya dan saya ikuti aliran saja. Apa kata ibu, itulah yang harus saya lakukan dan jalani. Semoga memang obat-obatan dan usaha-usaha ini bisa membuahkan hasil. Dan saya segera sembuh. Aamiin..
La ba'sa....Thohurun insyaaAllah..

Jumat, 21 Februari 2014

CIRI KHAS WANITA SALAFIYYAH

1. Ia berpegang teguh kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa ala aalihi wa sallam dalam hukum-hukum sesuai dengan kemampuannya dengan pemahaman Salafush Sholih.

2. Dan juga selayaknya baginya untuk bermuamalah dengan sesama muslim dengan muamalah yang baik, bahkan kepada orang-orang kafir.

Alloh azza wa jalla berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :

وقولوا للناس حسنا

“serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (Al-Baqoroh : 83)

Dan firman Alloh :

إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” [an-nissa 58].

Dan juga firman-Nya :

وإذا قلتم فاعدلوا

“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil “ (Al-An’am : 158)

Dan firman Alloh subhanahu wa ta’ala :

يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بهما فلا تتبعوا الهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإن الله بما تعملون خبيرا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (An-Nisa’ : 135)

3. Wajib baginya untuk mengenakan pakaian yang Islami dan menjauhkan diri dari tasyabbuh (menyerupai) terhadap musuh-musuh Islam.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari hadits Abdulloh bin Umar rodhiyallohu anhuma dia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut.”

Dan firman Alloh tentang pakaian :

يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يُعرفن فلا يُؤذين

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dan diriwayatkan dari at-Tirmidzi dalam Jami’nya dari hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu anhu ta’ala, dia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان

“Wanita itu aurat apabila dia keluar maka syaiton akan mengikutinya.”

4. Dan kami nasehatkan kepadanya untuk berbuat baik kepada suaminya jika ia menghendaki kehidupan yang bahagia. Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت لعنتها الملائكة ” متفق عليه . وفي صحيح مسلم : ” إلا كان الذي في السماء غاضبا عليها

“Bila seseorang mengajak isterinya ke tempat tidurnya (untuk berhubungan), dan ia menolak untuk memenuhinya, maka ia dilaknat oleh malaikat.” Muttafaqun alaihi.

Dan dalam riwayat Muslim : “melainkan yang di langit akan murka kepadanya.”

5. Dia juga harus mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang islami.

Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dalam shohihnya dari hadits Abdulloh bin Umar rodhiyallohu anhuma, dia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban tentang kepemimpinannya”

Dan menyebutkan tentang wanita bahwasanya dia :

راعية في بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها

“Pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.”

dan dalam Shohihain dari hadits Ma’qil bin Yasar rodhiyallohu anhu dia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

ما من راع يسترعيه الله رعيه ، ثم لم يحطها بنصحه إلا لن يجد رائحة الجنة

“Berapa banyak seorang pemimpin yang diberikan amanah oleh Alloh untuk memimpin kemudian ia tidak menjaganya dengan memberi nasihat kepadanya, kecuali dia tidak mendapatkan bau surga.”

Maka tidak sepatutnya baginya lebih menyibukkan diri dalam berdakwah daripada mendidik anak-anaknya.

6. Selayaknya baginya untuk ridho terhadap hukum Alloh tentang keutamaan laki-laki atas wanita, sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala :

ولا تتمنوا ما فضل الله به بعضكم على بعض

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain” (An-Nisa’ : 32)

Dan firman Alloh :

الرجال قوامون على النساء بما فضل الله به بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم فالصالحات قانتات حافظات للغيب بما حفظ الله واللاتي تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن في المضاجع واضربوهن فإن اطعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya“ (An-Nisa’ : 34)

Dan dalam kitab shohihain dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu, dia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wa aalihi wa sallam bersabda :

استوصوا بالنساء خيرا فإنهن خُلقن من ضِلع ، وإن أعوج ما في الضِلع أعلاه ، فإن ذهبت تقيمه كسرته ، وإن تركته لم يزل به عوج

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, jika dibiarkan maka ia akan tetap bengkok. ” (Muttafaq ‘alaih)

Maka selayaknya bagi seorang wanita harus bersabar terhadap apa yang ditakdirkan Alloh atasnya dari keutamaan laki-laki atasnya. Akan tetapi maknanya bukanlah memperbudaknya.

Rosul shollallohu alaihi wa sallam bersabda dalam Jami’ at-Tirmidzi :

استوصوا بالنساء خيرا ، فإنما هن عوان عندكم ، لاتملكون منهن غير ذلك ألا وإن لكم في نساءكم حقا ، ألا وإن لنسائكم عليكم حقا ، فحقكم عليهن أن لا يوطئن فرشكم من تكرهون ولا يأذنّ في بيوتكم من تكرهون ، وحقهن عليكم أن تحسنوا إليهن في طعامهن وكسوتهن

“Hendaklah kalian berbuat baik kepada wanita. Karena mereka laksana tawanan kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikitpun selain itu. Ketahuilah bahwa kalian mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi oleh istri-istri kalian, dan mereka juga mempunyai hak yang harus kalian penuhi. Adapun hak kalian yang harus dipenuhi oleh istri kalian adalah mereka tidak boleh mengijinkan seorangpun berada di tempat tidur kalian dan tidak mengijinkan masuk ke dalam rumah kalian orang yang kalian benci. Sedangkan hak istri kalian yang wajib kalian penuhi adalah memberikan makanan dan pakaian kepada mereka dengan baik “.

Dan dalam Kitab Sunan dan Musnad Imam Ahmad dari hadits Mu’awiyah bin Haidah, bahwa seorang laki-laki bertanya: “Wahai Rosululloh apakah hak istri salah seorang dari kami terhadap kami?” Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menjawab :

أن تطعمها إذا أطعمت ، وتكسوها إذا اكتسيت ، ولا تضرب الوجه ولا تقبح ، ولا تهجر إلا في البيت

“Kamu memberinya makan jika kamu makan, kamu berikan pakaian kepadanya jika kamu berpakaian, jangan memukul wajahnya, jangan menjelek-jelekkannya, dan janganlah kamu meninggalkannya kecuali di dalam rumah.”

Maka – Semoga Alloh memberkati kalian- Seharusnya kita semua tolong-menolong dalam kebaikan, laki-laki bergaul dengan istrinya dengan pergaulan yang Islami serta menolongnya dalam menuntut ilmu dan dakwah kepada Alloh, dan begitu juga istri bergaul dengan suaminya dengan pergaulan yang Islami serta menolongnya dalam menuntut ilmu dan dakwah kepada Alloh, dan juga dalam pengaturan yang baik terhadap apa-apa yang berhubungan dengan rumah.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :

تعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” ( Al-Ma’idah : 2)

Wallohul Musta’an.

(Oleh : Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh)

Sumber : http://www.olamayemen.com/show_fatawa127.html

BELAJAR SWAY-SWAY BAHASA ARAB

Kumpulan Bahasa Arab yang Kerap Dipakai

Bismillah,
berikut ini adalah istilah-istilah singkat yang biasa digunakan oleh para penuntut ilmu syar’i :

  • Afwan = maaf.
  • Tafadhdhol = silahkan (untuk umum)
  • Tafadhdholiy = silahkan (untuk perempuan)
  • Mumtaz : Hebat, Nilai sempurna, bagus banget
  • Na’am : iya
  • La adri = tidak tahu
  • Syukron : terima kasih 
  • Zadanallah ilman wa hirsha = smoga ALLAH manambah kita ilmu & semangat 
  • Yassarallah/sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna = semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun berada 
  • Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH ampunilah kami & kaum muslimin
  • Laqod sodaqta = dengan sebenarnya
  • Ittaqillaah haitsumma kunta = Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada
  • Allahul musta’an = hanya ALLAH-lah tempat kita minta tolong
  • Barakallah fikum = semoga ALLAH memberi kalian berkah
  • Wa iyyak = sama-sama
  • Wa anta kadzalik = begitu jg antum
  • Ayyul khidmah = ada yg bisa dibantu ?
  • Nas-alullaha asSalamah wal afiah = kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan
  • Jazakumullah khayran = semoga ALLAH memmbalas kalian dengan lebih baik
  • Jazaakallahu khayran = semoga ALLAH membalasmu (laki2) dengan lebih baik
  • Jazaakillahu khayran = semoga ALLAH memmbalasmu (perempuan) dengan lebih baik
  • Allahumma ajurny fi mushibaty wakhlufly khairan minha = ya ALLAH berilah pahala pada musibahku dan gantikanlah dg yg lebih baik darinya.
  • Rahimakumullah = smoga ALLAH merahmati kalian
  • Hafizhanallah = semoga ALLAH menjaga kita
  • Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita petunjuk/hidayah.
  • Allahu yahdik = semoga Allah memberimu petunjuk/hidayah
  • ‘ala rohatik = ‘ala kaifik = terserah anda… 
(biasanya digunakan dalam percakapan bebas, atau lebih halusnya silahkan dikondisikan saja..)

  • ana = y = saya
  • anta = ka = kamu laki2
  • anti = ki = kamu prempuan
(maksudnya ==> kalau untuk kepada kamu laki2= kaifa haluka ? ; Kalau kepada kamu perempuan : kaifa haluki?)

  • antum = kum = kalian laki2
  • antunna = kunn = kalian prempuan
  • huwa = hu = dia laki2
  • hiya = ha = dia prempuan
maa dza ta’malu ? = apa yg sedang kamu kerjakan ?
maa dza ta’maluna ? = apa yg sedang kalian kerjakan ?
qoro’tu fiil madi = aku telah membaca
ahfadhuhaa mahlan mahlan = saya akan menghafalnya pelan-pelan

ﺃَﺣْﻤَﺪ: ﻣِﻦْ ﺃَﻳْﻦَ ﺃَﻧْﺖَ ﻗَﺎﺩِﻡ ﻳَﺎ ﺃَﺧِﻲ؟
Min aina anta qaadim, ya akhii? / Dari mana Anda berasal, wahai Saudaraku?
ﻣُﺤَﻤَّﺪ: ﺃَﻧَﺎ ﻗَﺎﺩِﻡ ﻣِﻦْ ﺟَﺎﻭَﻯ ﺍﻟﺸَّﺮْﻗِﻴَّﺔ
Anaa qaadim min Jaawaa asy-syarqiyyah / Saya berasal dari Jawa Timur
ﺃَﺣْﻤَﺪ: ﻫَﻞْ ﺃَﻧْﺖَ ﻃَﺎﻟِﺐ؟
Hal anta thaalib? / Apakah Anda seorang mahasiswa?
ﻣُﺤَﻤَّﺪ: ﻻَ ﺃَﻧَﺎ ﻣُﻮَﻇَّﻒ
Laa, anaa muwadhdhaf / Tidak, saya seorang karyawan
ﺃَﺣْﻤَﺪ: ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﻜْﺘَﺒُﻚَ؟
Aina maktabuka? / Di mana kantormu?
ﻣُﺤَﻤَّﺪ: ﻣَﻜْﺘَﺒِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺎﺭِﻉ ﺳُﻮﺩِﺭْﻣَﺎﻥ
Maktabii fisy-syaari’ Sudirman / Kantorku di jalan Sudirman
ﺃَﺣْﻤَﺪ: ﺑِﻤَﺎﺫَﺍ ﺗَﺬْﻫَﺐ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘَﺐ؟
Bimaadzaa tadzhab ilal-maktab? / Dengan apa Anda pergi ke kantor
ﻣُﺤَﻤّﺪ: ﺃَﺫْﻫَﺐ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘَﺐ ﺑِﺎﻟﺴَّﻴَّﺎﺭَﺓ
Adzhab ilal-maktab bis-sayyaarah / Saya pergi ke kantor dengan mobil
Akalti : kamu sudah makan
ana ata’allamu = saya sedang belajar
nahnu nata’allamu = kami sedang belajar al idhofatu = sandaran
contoh :
———
kitaabun – Muhammad –> kitaabun Muhammadin = bukunya Muhammad –> nah, ini dalam bahasa arab disebut : mudhoofun ilaih (mabniun alal kasry) lagi.. baitun – mudarrisyun –> baitu mudarrisyin/baitul mudarrisyi = rumah guru
nah..
TIPS:
bagaimana kalau berdiskusi dgn para ahlul bid’ah dan mereka tetap bersikeras kepada kebid’ahannya ?
Cukup tutup dengan kalimat,
“mau’iduna yaumal jana’iz!” = nantikanlah sampai kematian menjemput anda
Setelah itu, tinggalkan tempat kejadian perkara
selesai
___________________________________________


- ana = saya
- anta = ka = kamu laki2
- anti = ki = kamu prempuan
- antum = kum = kalian laki2
- antunna = kunn = kalian prempuan
- huwa = hu = dia laki2
- hiya = ha = dia perempuan
- ya akhi = wahai saudaraku (laki2)
- ya ukhti = wahai saudaraku (perempuan)
- Akhi fillah = saudaraku seiman (kepada Allah)
- Jazaakallahu khayran = smoga ALLAH memmbalasmu dengan kebaikan.
- Jazakumullah khayiran = smoga ALLAH memmbalas kalian dengan kebaikan
- Allahu yahdik = Semoga Allah memberimu petunjuk
- Rahimahullah = Semoga Allah merahmatinya
- Rahimakumullah = smoga ALLAH mrahmati kalian
- Hafizhanallah = smoga ALLAH menjaga kita
- Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita petunjuk.
- Afwan = maaf
- ISTAGHFARA-YASTAGHFIRU (استغفر) = meminta ampun.
- Zadanallah ilman wa hirshan = Semoga ALLAH manambah kita ilmu & smangat
- Yassarallah / sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna = Semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun berada
- Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH ampunilah kami & kaum muslimin
- Allahul musta’an = hanya ALLAH lah tempat kita minta tolong
- Barakallahu fiik/kum = Semoga ALLAH memberi kalian berkah
- Wa iyyak/kum = sama2
- Wa anta kadzaalik = begitu jg antum
- Nas-alullaha assalamah wal aafiah = kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan
dipersilahkan bagi yg mau menambahkan / mengkoreksi,
& kalo ada yg mau menambahkan dgn huruf hijaiyah itu lebih baik
jazakumullah khayran
ana aidon = aku juga
thoyyib = baik lah..
laa bahsa = ga papa
mafi musykila = ga masalah
sway-sway = dikit-dikit
_________________________________


PENGGUNAAN KATA "AFWAN"


kata ‘afwan dibeberapa ayat dengan beberapa makna yang saling berbeda. Antara lain:
Pertama, ( ولقد عفا الله عنهم) QS. Ali Imran : 155, maknanya maaf.
Kedua, (إلا أن يعفون أو يعفو الذي بيده عقدة النكاح) QS. Al-Baqarah : 237, maknanya meninggalkan.
Ketiga, (ثمّ بدّلنا مكان السيئة الحسنة حتى عفوا) QS. al-A’raf : 95, maknanya tambah banyak.
Keempat, (ويسألونك ما ذا ينفقون قل العفو) QS. al-Baqarah : 219, maknanya kelebihan dari harta.
Dari beberapa kata “afwan” yang ada dalam al-Quran tersebut, dapat kita tafsirkan makna dari kata “afwan”:
Menurut pengertian pertama, “maafkan saya atas kekurangan saya yang tidak mampu memberikan pelayanan lebih.”
Menurut pengertian kedua, “tinggalkan terimakasih tersebut, karena saya tak butuh terima kasih itu.”
Menurut pengertian ketiga, “diantara kita ada yang lebih banyak dari apa yang telah saya berikan.”
Menurut pengertian keempat, “apa yang telah saya berikan merupakan limpahan pemberian yang tidak berhak disyukuri.”
Wallahu a’lam.

Penggunaan ‘afwan’ kalau dalam keseharian sama dengan ‘you welcome’ dlm bhs Inggris. juga sering digunakan sebagai permintaan maaf dalam mengusulkan sesuatu, atau kalau tidak dapat memenuhi sesuatu. (dikedua kesempatan ini kata ‘afwan’ digunakan commonly) Wallahu a'lam..

PEMBAHASAN MENGENAI "WA IYYAAK"


Nah, ngomong2 soal “wa iyyaka” atau “wa iyyakum”, kayaknya ada artikel bagus nih, khusus membahas masalah ucapan “wa iyyaka” atau “wa iyyakum”
———
Banyak orang yang sering mengucapkan “waiyyak (dan kepadamu juga)” atau “waiyyakum (dan kepada kalian juga)” ketika telah dido’akan atau mendapat kebaikan dari seseorang. Apakah ada sunnahnya mengucapkan seperti ini? Lalu bagaimanakah ucapan yang sebenarnya ketika seseorang telah mendapat kebaikan dari orang lain misalnya ucapan “jazakallah khair atau barakalahu fiikum”?


Berikut fatwa Ulama yang berkaitan dengan ucapan tersebut:
Asy Syaikh Muhammad ‘Umar Baazmool, pengajar di Universitas Ummul Quraa Mekah, ditanya: Beberapa orang sering mengatakan “Amiin, waiyyaak” (yang artinya “Amiin, dan kepadamu juga”) setelah seseorang mengucapkan “Jazakallahu khairan” (yang berarti “semoga ALLAH membalas kebaikanmu”). Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan perkataan ini setiap saat?
Beliau menjawab:
Ada banyak riwayat dari sahabat dan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, dan ada riwayat yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat mereka yang mengatakan “Jazakalahu khairan,” tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka secara khusus membalas dengan perkataan “wa iyyaakum.”
Karena ini, mereka yang berpegang pada perkataan “wa iyyaakum,” setelah doa apapun, dan tidak berkata “Jazakallahu khairan,” mereka telah jatuh ke dalam suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk agama).


Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?
Beliau menjawab:
“tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khair” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazakalallahu khair” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”



PENGGUNAAN KATA "SYUKRAN"


Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ditanya: Apa hukumnya mengucapkan, “Syukran (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada kita?
Beliau menjawab:
Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallahu khairan (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat kemenangan.

Menjawab dengan “Wafiika barakallah”.
Apabila ada seseorang yang telah mengucapkan do’a “Barakallahu fiikum atau Barakallahu fiika” kepada kita, maka kita menjawabnya: “Wafiika barakallah” (Semoga Allah juga melimpahkan berkah kepadamu) (lihat Ibnu Sunni hal. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Ibnil Qayyim, hal. 304. Tahqiq Muhammad Uyun)
Menjawab dengan “jazakallahu khair”.
Ada satu hadits yang menjelaskan sunnahnya mengucapkan “jazakallahu khairan”, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)


Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah:
- jazakallahu khairan (engkau, lelaki)
- jazakillahu khairan (engkau, perempuan)
- jazakumullahu khairan (kamu sekalian)
- jazahumullahu khairan (mereka)

Fatwa ulama seputar ucapan “jazakallah”:
Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:
Sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan “jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan), dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam, dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.?
Beliau menjawab:
Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini, sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini. Boleh jadi orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya. Seseorang mendoakan kebaikan, dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini. Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini, bukan berarti bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk menambah dari do’a tersebut. Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa. Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a. Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya, boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.

Al-Allamah Asy Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah ditanya:
Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan)” ?
Beliau -hafidzahullah- menjawab:
“Demi Allah, kebaikan itu tidak ada batasnya, sedangkan kata seribu itu terbatas, sementara kebaikan tidak ada batasnya. Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”, seperti ungkapan mereka ini. Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.” (transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah, kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, nomor hadits: 222)

Kesimpulan:
Ucapan “Waiyyak” secara harfiah artinya “dan kepadamu juga”. Ini adalah bentuk do’a `yang walaupun ulama kita tidak menemukan itu sebagai sunnah. Dalam kasus manapun, namun tidak ada ulama yang melarang berdo’a dengan selain ucapan “Jazakumullah khairan” dengan syarat tidak boleh menganggapnya merupakan bagian dari sunnah. Namun untuk lebih afdholnya kita ucapkan “jazakalla khair”, inilah sunnahnya.
Ada satu kaidah ushul fiqih yang dengan ini mudah-mudahan kita bisa terhindar dari bid’ah dan kesalahan-kesalahan dalam beramal atau beribadah.

Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).
Dari ayat yang mulia ini, Allah ta’ala memulai dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim, akan tetapi Allah mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat, kalau pada kalimat syahadat saja Allah berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan lainnya? Tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian mengamalkannya. Kita tidak boleh asal ikut-ikutan orang lain tanpa dasar ilmu, seseorang sebelum berbuat sesuatu harus mengetahui dengan benar dalil-dalilnya.
Muraja’:
- sunniforum.com/forum/showthread.php?t=3105
- darussalaf.or.id/stories.php?id=1520
- Hisnul Muslim, Syaikh Said bin Ali Al Qathani

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bagaimana Ucapan yang sempurna dalam menjawab Jazakallohu khoiron..?

Oleh : Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah

Ucapan Ini Merupakan Amal Sholeh dan Amal Sholeh pun Akan Mengucapkannya.
Ucapan ini bagi yang mengucapkannya adalah ibadah. Karena ucapan ini adalah sebuah doa dan doa itu adalah ibadah.
Adapun bagi yang menerimanya, ucapan ini adalah sebuah kalimat yang sangat baik.
Membuat wajah ingin tersenyum dan membahagiakan hati…
Ucapan ini lebih manis daripada “Syukron”…
Dan lebih bermanfaat daripada “terima kasih”…
Dan sangat tepat diucapkan oleh seseorang yang ingin menyampaikan kepada temannya bahwa ia tidak mampu membalas kebaikannya.


Ucapan yang dimaksud adalah:
“JAZAKALLOHU KHOIRON” [semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan_umum/laki laki].
atau “JAZAKILLAHU KHOIRON” [jika yang diberi ucapan adalah wanita].
Ucapan ini adalah amalan sholih karena ucapan ini merupakan sunnah Nabi shollallohu alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadits Usamah bin Zaid, ia berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا؛ فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاء
“Barang siapa yang diberi suatu kebaikan kepadanya, lalu ia mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut: “Jazakallohu khoiron”, maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” [HR. at-Tirmidzi no. 1958, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubro 6/53, dll. Dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahullohu ta’ala dalam Shohih at-Targhib wat Tarhib (969).
Dalam Faidhul Qodir (172/6) dijelaskan:
“telah mencukupi rasa syukurnya” maksudnya adalah hal tersebut karena pengakuan terhadap kekurangannya, dan ketidakmampuan dalam membalas kebaikannya, dan mempercayakan membalas kebaikannya pada Alloh agar ia mendapatkan balasan yang sempurna.

Berkata al-allamah al-Utsaimin rohimahulloh dalam Syarah Riyadhus Sholihin :
“Hal itu dikarenakan jika Alloh membalas kebaikannya dengan kebaikan, hal itu merupakan kebahagian baginya di dunia dan akhirat.”

CARA MENJAWABNYA
Dan yang utama dalam menjawab kalimat yang bagus ini adalah dengan mengulang kalimat tersebut yakni membalasnya dengan mengatakan :
“WA ANTA FAJAZAKALLOHU KHOIRON” atau yang semisalnya.
Walaupun membalasnya dengan ucapan “WA IYYAKUM” dan yang semisalnya adalah boleh-boleh saja, namun yang lebih afdhol adalah membalas dengan mengulang lafadz doa tersebut.
Sebagaimana DIFATWAKAN oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafidzohulloh:

السؤال: هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟

Pertanyaan :
...
Apakah ada dalil bahwa membalasnya (ucapan jazakallohu khoiron) adalah dengan ucapan “wa iyyakum”?

فأجاب: لا , الذي ينبغي أن يقول وجزاكم الله خيرا) يعنى يدعى كما دعا, وإن قال (وإياكم) مثلا عطف على جزاكم ,يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل لنا يحصل لكم .لكن إذا قال: أنتم جزاكم الله خيرا ونص على الدعاء هذا لا شك أنها أوضح وأولى
(مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي ,كتاب البر والصلة ,رقم:222)
Beliau menjawab :
“Tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “wa jazakallohu khoiron” (dan semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan), yaitu didoakan sebagaimana dia mendoakan, dan seandainya ia mengucapkan semisal “wa iyyakum” sebagai athof (mengikuti) atas ucapan “Jazakum”, yakni ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, semoga kalian juga”.
Akan tetapi jika ia membalasnya dengan ucapan “antum jazakumulloh khoiron” dan mengucapkan dengan lafadz do’a tersebut, tidak diragukan lagi bahwa ini lebih jelas dan lebih utama.” [*] –selesai nukilan fatwa Syaikh Abdul Muhsin hafidzohulloh -
[*] Di transkrip dari kaset Durus Syarh Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Birr wash Shilah no. 222, oleh ustadz Abu Karimah hafidzohulloh. Sumber:http://ibnulqoyyim.com/content/view/36/9/, dengan perubahan dalam terjemahannya.


Dan dalil apa yang difatwakan Syaikh Abdul Muhsin di atas adalah sebagaimana dalam hadits berikut :
Dari Anas bin Malik rodhiyallohu anhu ia berkata:
Usaid bin al-Hudhoir an-Naqib al-Asyhali datang kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, maka ia bercerita kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam tentang sebuah keluarga dari Bani Zhofar yang kebanyakannya adalah wanita, maka Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam membagi kepada mereka sesuatu, membaginya di antara mereka, lalu Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam berkata :

تركتَنا -يا أسيد!- حتى ذهب ما في أيدينا، فإذا سمعتَ بطعام قد أتاني؛ فأتني فاذكر لي أهل ذلك البيت، أو اذكر لي ذاك. فمكث ما شاء الله، ثم أتى رسولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طعامٌ مِن خيبر: شعيرٌ وتمرٌ، فقسَم النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في الناس، قال: ثم قسم في الأنصار فأجزل، قال: ثم قسم في أهل ذلك البيت فأجزل، فقال له أسيد شاكرًا له: جزاكَ اللهُ -أيْ رسولَ الله!- أطيبَ الجزاء -أو: خيرًا؛ يشك عاصم- قال : فقال له النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وأنتم معشرَ الأنصار! فجزاكم الله خيرًا- أو: أطيب الجزاء-، فإنكم – ما علمتُ- أَعِفَّةٌ صُبُرٌ
“Engkau meninggalkan kami wahai Usaid, sampai habis apa-apa yang ada pada kami, jika engkau mendengar makanan mendatangiku, maka datangilah aku dan ingatkan padaku tentang keluarga itu atau ingatkan padaku hal itu.”
Maka setelah beberapa saat, datang kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam makanan dari khoibar berupa gandum dan kurma, maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam membaginya kepada manusia.
Ia berkata:
kemudian beliau membaginya kepada kaum Anshor lalu makanan itupun menjadi banyak, lalu ia berkata: kemudian beliau membaginya kepada keluarga tersebut lalu makanan itupun menjadi banyak.
Lalu Usaid pun mengucapkan rasa syukurnya kepada Nabi:
“Jazakallohu athyabal jaza’ –atau khoiron- (Semoga Alloh membalasmu -yaitu kepada Rosululloh- dengan sebaik-baik balasan –atau kebaikan), Ashim (perawi hadits, pent) ragu-ragu dalam lafadznya,
lalu ia berkata : Nabi shollallohu alaihi wa sallam kemudian membalasnya :
“wa antum ma’syarol Anshor, fa jazakumullohu khoiron –atau athyabal jaza’- (dan Kalian wahai sekalian kaum Anshor, semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan –atau sebaik-baik balasan), sesungguhnya setahuku kalian adalah orang-orang yang sangat menjaga kehormatan lagi penyabar”
[HR. an-Nasa’i no. 8345, ath-Thobroni dalam Mu’jam al-Kabir no. 567, Ibnu Hibban no. 7400 & 7402, Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya no. 908, dll. Dishohihkan syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3096]


Begitu pula terdapat contoh atsar para salaf yang mengamalkan ucapan ini.
Imam Bukhori rohimahulloh meriwayatkan dalam al-Adabul mufrod dengan sanadnya dari Abu Murroh, maula Ummu Hani’ putri Abu Tholib:
:أنه ركِبَ مع أبي هُريرة إلى أرضِه بالعقيق، فإذا دَخَلَ أرْضَهُ صَاح بأعلى صوتِه : عليكِ السَّلامُ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه يا أُمتاه! تقول
وعليكَ السَّلامُ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه، يقول: رحمكِ اللهُ؛ ربَّيْتِني صغيرًا
فتقول: يا بُنيّ! وأنتَ فجزاكَ اللهُ خيرًا، ورضي عنك؛ كما بَرَرْتَني كبيرًا
Bahwasanya ia berkendara bersama Abu Huroiroh ke kampung halamannya di ‘Aqiiq.
Ketika ia sampai di rumahnya ia berkata dengan mengeraskan suaranya: “Alaikissalam warohmatullohi wabarokatuh wahai ibuku.”
Lalu ibunya berkata :” wa’alaikassalam warohmatullohi wabarokatuh.”
Ia berkata (bersyukur kepada ibunya, pent) : “Rohimakillah (semoga Alloh merahmatimu wahai ibu), engkau telah merawatku ketika aku masih kecil.”
Maka ibunya berkata : “Wahai anakku wa anta fajazakallohu khoiron, semoga Alloh meridhoimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku saat engkau sudah besar.”
[HR. al-Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no. 15, syaikh al-Albani rohimahulloh berkata: “sanadnya hasan” dalam shohih al-Adabul Mufrod no. 11]


Dalam Thobaqot al-Hanabilah diriwayatkan:
أنبأنا المبارك عن أبي إسحاق البرمكي حدثنا محمد بن إسماعيل الوراق حدثنا علي بن محمد قال: حدثني أحمد بن محمد بن مهران حدثنا أحمد بن عصمة النيسابوري حدثنا سلمة بن شبيب قال: عزمت على النقلة إلى مكة فبعت داري فلما فرغتها وسلمتها وقفت على بابها فقلت: يا أهل الدار جاورناكم فأحسنتم جوارنا جزاكم الله خيراً وقد بعنا الدار ونحن على النقلة إلى مكة وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته قال: فأجابني من الدار مجيب فقال: وأنتم فجزاكم الله خيرا ما رأينا منكم إلا خيرا ونحن على النقلة أيضاً فإن الذي اشترى منكم الدار رافضي يشتم أبا بكر وعمر والصحابة رضي الله عنهم.
Dari Salamah bin Syabib[**], ia berkata :
aku ingin pindah ke Mekkah, lalu akupun menjual rumahku. Ketika urusannya selesai aku pamit kepada tetanggaku dan mengucapkan salam sambil berdiri di depan pintu rumahnya, aku berkata: “Wahai tetanggaku, kami telah hidup bertetangga dengan kalian dan kalianpun telah berbuat baik dalam bertetangga dengan kami, jazakumulloh khoiron, aku telah menjual rumah kami dan kami akan pindah ke Mekkah, wa’alaikumussalam warohmatulloh wa barokatuh.”
Lalu seseorang dari rumah itu menjawab:
“wa antum fajazakumulloh khoiron, tidaklah kami melihat pada kalian melainkan kebaikan, tapi kami mau pindah juga karena ternyata yang membeli rumah kalian adalah seorang Rofidhoh (syi’ah) yang mencela Abu Bakr, Umar dan pada shahabat rodhiyallohu anhum.”
[Thobaqot al-Hanabilah 1/65, Maktabah Syamilah]
[**] Salamah bin Syabib (W. 246 H) adalah seorang ulama salaf perowi hadits yang sezaman dengan imam Ahmad bin Hambal, adz-Dzahabi berkata tentang Salamah bin Syabib: “al-Hafidz, Hujjah”.



DAN AMAL SHOLEH PUN MENGUCAPKANNYA

Hal ini terjadi di alam kubur, sebagaimana dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan al-Barro’ bin Azib rodhiyallohu anhu, bahwa setelah seorang hamba yang beriman diuji (dengan pertanyaan dalam kubur, pent) dan ditetapkan dalam menjawab ujian:

يَأْتِيهِ آتٍ حَسَنُ الْوَجْهِ طَيِّبُ الرِّيحِ حَسَنُ الثِّيَابِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِكَرَامَةٍ مِنَ اللهِ وَنَعِيمٍ مُقِيمٍ؛
فَيَقُولُ: وَأَنْتَ؛ فَبَشَّرَكَ اللهُ بِخَيْرٍ، مَنْ أَنْتَ؟
فَيَقُولُ: ”أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، كُنْتَ –وَاللهِ!- سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ، بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ؛ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا.
:ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنَ الْجَنَّةِ وَبَابٌ مِنَ النَّارِ فَيُقَالُ
…هَذَا كَانَ مَنْزِلَكَ لَوْ عَصَيْتَ اللهَ، أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ هَذَا
Datanglah seseorang dengan wajah yang baik, berbau wangi dan memakai baju yang bagus, lalu orang tersebut berkata: “Bergembiralah dengan kemuliaan dari Alloh dan kenikmatan yang abadi”, maka hamba yang beriman tersebut bertanya: “Wa anta fa basyarokallohu bi khoirin (dan semoga Alloh juga memberimu kabar gembira berupa kebaikan), siapakah anda?” lalu orang itu menjawab : “aku adalah amal sholehmu, engkau dahulu –demi Alloh- sangat cepat dalam ta’at kepada Alloh sangat lambat (menjauhi, pent) dalam maksiat kepada Alloh, fa jazakallohu khoiron”.
Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan sebuah pintu neraka, lalu dikatakan: “Ini (neraka) adalah tempatmu seandainya engkau bermaksiat kepada Alloh, dan Alloh telah menggantikan untukmu dengan yang ini (surga)…”
[HR. Ahmad no. 17872, Abdurrozzaq dalam Mushonnaf-nya no. 6736,dll. Dishohihkan syaikh al-Albani dalam Ahkamul Jana’iz hal.158]


Maka beruntunglah seorang hamba yang diberi taufik dalam kehidupan dunianya terhadap ucapan yang baik ini, baik ia mengucapkannya maupun ia menerimanya. Dan di akhiratnya ia mendapat kabar gembira dengan ucapan ini oleh amal sholehnya. Seandainya bukan karena keutamaan dan rahmat Alloh maka ia tidak mampu beramal sholeh.


Subhanallah…


Allah Yang Maha Memberi Nikmat, memberikan nikmat berupa taufik kepada hamba-Nya untuk beramal sholeh, kemudian memberi nikmat lagi berupa menjadikan amal sholehnya memuji hamba tersebut…
Subhanalloh…
Hadits yang mulia ini juga mengingatkan kita untuk cepat dalam ta’at kepada Alloh dan menjauhi maksiat…
Semoga Alloh ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mampu mengamalkan sifat yang mulia ini…

Maroji’ :
# Artikel “Hiya Amalun Sholih wa yaquluha al-Amal ash-Sholih” yang ditulis oleh salah seorang putri syaikh al-Albani, yaitu Sukainah bintu Muhammad Nashiruddin al-Albaniyyah hafidzohalloh dalam blog beliau [tamammennah.blogspot.com], dan tulisan ini banyak mengambil faidah dari sana –fa jazahallohu khoiron-.
# Transkrip Fatwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad oleh ustadz Abu Karimah Askari hafidzohulloh di http://ibnulqoyyim.com/content/view/36/9/
# Al-Maktabah asy-Syamilah v3, dan penomoran hadits & atsar merujuk kepada software ini.
Sumber :
http://abu-rabbani.blogspot.com/2009/08/kekeliruan-dalam-mengucapkan-kata.html

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jika ada yang mengucapkan “Ana uhibbuka fillah”, maka jawabnya adalah “ahabbakal ladzii ahbabtanii lahu” (Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya) [HASAN. HR.Abu Daud 4/333, Syaikh Albani menghasankannya dalam Shahih Sunan Abu Daud 3/965].
-PustakaSunnah.Wordpress.com
Disadur dari : group FB jalan yang lurus [http://www.facebook.com/groups/178870065487878?view=doc&id=218137768227774]

Sumber artikel:http://pustakasunnah.wordpress.com/2011/07/10/kumpulan-bahasa-arab-yang-kerap-dipakai/


Copas dari sini

Kamis, 20 Februari 2014

PERKEDEL JAGUNG

Perkedel Jagung adalah salah satu menu favorit di rumah. Selain rasanya yang maknyus, proses pembuatannya juga gampang sekali. Bahan-bahan yang dibutuhkan juga mudaahh sekali ditemukan. Untuk masak kilat, ini nih yang pas. Resepnya? Cekidot..

PERKEDEL JAGUNG

Bahan:

  • 3 buah Jagung Manis, disisir kemudian ditumbuk kasar (kurang lebih 300 gr)
  • 1 btg Bawang Daun, diiris
  • 1 btg Seledri, diiris
  • 4 lembar Daun Jeruk, diiris
  • 3 Cabe Merah, diiris
  • 1 butir Telur
  • 3 sdm Terigu (disesuaikan dengan kekentalan adonan)
Bumbu Halus:
  • 3 Bawang Merah
  • 3 Bawang Putih
  • 1 sdt Ketumbar
  • Garam
  • Gula
  • Merica
Cara Membuat:
Campur semua bahan, kemudian goreng hingga matang.

Simpel banget kan? hehehhe..
Yuk dicoba.... ^^