Bismillah..
Hari ini ngapain aja?
Hhmm... *mengingat-ingat*
Pagi tadi online fb, twitter, BBM, WhatsApp...setelah itu mandi, trus dengar kajian oleh Ustadz Dzulqarnain via streaming di syiartauhid.info, lalu ke rumah sakit untuk menjenguk keluarga yang sakit. Keluarga saya ini laki-laki (mungkin tepatnya bapak-bapak), dia mengidap penyakit tumor di bagian belakang lehernya. Agak lucu juga sih, soalnya keluarga saya ini kan tubuhnya kekar, penuh semangat, selalu tersenyum dan tertawa, jarang berbaring di atas tempat tidur pasien, lebih sering jalan-jalan kemana-mana, dan dia mengenakan baju kaos oblong + celana kain yang rapi di rumah sakit tersebut, tidak seperti orang sakit pada umumnya. Malah istrinya yang seperti pasien, soalnya di jidatnya ada perban karena luka. Ckckckk. Cerita istrinya, dokter juga pada heran, pasien ini yang mana sih? Terlebih kalau malam hari, dia menyuruh istrinya (yang sebenarnya tugasnya menjaga pasien) untuk tidur di atas ranjang pasien, dan dia yang tidur di bawah (di lantai beralaskan karpet). Untung bukan istrinya yang disuntik ketika tiba jadwalnya pemberian obat kepada pasien hihihihi..
Hari ini ngapain aja?
Hhmm... *mengingat-ingat*
Pagi tadi online fb, twitter, BBM, WhatsApp...setelah itu mandi, trus dengar kajian oleh Ustadz Dzulqarnain via streaming di syiartauhid.info, lalu ke rumah sakit untuk menjenguk keluarga yang sakit. Keluarga saya ini laki-laki (mungkin tepatnya bapak-bapak), dia mengidap penyakit tumor di bagian belakang lehernya. Agak lucu juga sih, soalnya keluarga saya ini kan tubuhnya kekar, penuh semangat, selalu tersenyum dan tertawa, jarang berbaring di atas tempat tidur pasien, lebih sering jalan-jalan kemana-mana, dan dia mengenakan baju kaos oblong + celana kain yang rapi di rumah sakit tersebut, tidak seperti orang sakit pada umumnya. Malah istrinya yang seperti pasien, soalnya di jidatnya ada perban karena luka. Ckckckk. Cerita istrinya, dokter juga pada heran, pasien ini yang mana sih? Terlebih kalau malam hari, dia menyuruh istrinya (yang sebenarnya tugasnya menjaga pasien) untuk tidur di atas ranjang pasien, dan dia yang tidur di bawah (di lantai beralaskan karpet). Untung bukan istrinya yang disuntik ketika tiba jadwalnya pemberian obat kepada pasien hihihihi..
Hemm... Tumor. Penyakit ini berbahaya jika dia tergolong tumor ganas.
Pada saat mengunjungi rumah sakit tadi, masyaAllah ternyata ada buanyakk sekali pasien tumor. Ada yang tumor pada lehernya yang pembengkakannya itu sampai melebihi ukuran besar dari kepala pasien tersebut, ada yang tumornya itu sudah menyebar ke seluruh kaki kanannya, ada yang tumornya pada bagian leher itu sudah meletus dan mengeluarkan darah (pasien yang ini katanya dokter sudah angkat tangan..tidak bisa ditangani lagi). Macam-macam. Ada juga pasien yang mungkin saking sakitnya tumor yang dia derita, dia tidak henti-hentinya meringis kesakitan. Syafakumullah...
Pada saat mengunjungi rumah sakit tadi, masyaAllah ternyata ada buanyakk sekali pasien tumor. Ada yang tumor pada lehernya yang pembengkakannya itu sampai melebihi ukuran besar dari kepala pasien tersebut, ada yang tumornya itu sudah menyebar ke seluruh kaki kanannya, ada yang tumornya pada bagian leher itu sudah meletus dan mengeluarkan darah (pasien yang ini katanya dokter sudah angkat tangan..tidak bisa ditangani lagi). Macam-macam. Ada juga pasien yang mungkin saking sakitnya tumor yang dia derita, dia tidak henti-hentinya meringis kesakitan. Syafakumullah...
Alhamdulillah tumor yang diderita oleh keluarga saya ini mungkin bukan yang tergolong ganas. Karena dia tampak sehat-sehat saja. Katanya juga benjolannya itu tidak sakit, cuma kadang tiba-tiba menjadi kaku dan membuat kepala dan lehernya agak nyeri.
Melihat keadaan semua pasien yang saya temui, saya jadi kepikiran dengan benjolan pada tubuh saya. Semoga ini hanya tumor jinak yang gampang penangananan dan penyembuhannya. Benjolan saya ini sudah cukup lama saya rasakan. Kira-kira sudah setahun lamanya. Iya, seingat saya Februari 2013 saya mulai mendeteksi kalau ada benjolan tersebut di tubuh saya. Saya lalu menceritakannya ke ibu saya. Ibu saya kaget mendengarnya. Dia mulai khawatir. Maklum karena keluarga dan teman ibu saya beberapa meninggal karena tumor dan kanker. Beliau mulai panik dan mencari tahu informasi mengenai benjolan tersebut. Waktu itu ukuran benjolannya sebesar kelereng. Jelas terasa keberadaannya.
Setelah mungkin berdiskusi dengan teman mengajarnya, Ibu saya menyuruh saya untuk meminum sari kunyit putih. Sari kunyit putih ini harus diminum setiap pagi. Cara pembuatannya gampang, jadi rimpang kunyit putihnya dibersihkan lalu diparut dan diseduh air panas. Setelah itu airnya disaring dan ampasnya tidak diambil. Sarinya ini diminum pas masih hangat. Dan rasanya....WAW sekali.. Pahit, panas, bau, keras, pokoknya tidak enak sekali. Pertama kali meminumnya, pas tegukan pertama, wuihh rasa-rasanya cairan tersebut langsung menuju otak saya dan membuat saya ingin memuntahkannya. Sangat tidak enak. Tapi harus diminum, sebagai upaya dan jalan untuk memperoleh kesembuhan dari Allah.. Selain itu, saya juga dibawa ke apotek Leo oleh ibu saya. Disana ibu saya menceritakan perihal benjolan saya. Oleh apoteker kami diberi Melia Propolis, katanya sudah banyak pasien tumor dan kanker, bahkan ada yang tumornya itu sudah mengeluarkan cairan semacam darah, dan setelah rutin minum melia propolis ini, tumornya tersebut perlahan-lahan mengering dan berkurang. Melia Propolis ini harus diminum 2 kali sehari, dengan kadar 5 tetes setiap kali minum.
Setelah sebulan lebih mengkonsumsi kedua obat tersebut secara rutin, saya merasa benjolan saya mengecil. Alhamdulillah. Dan karena kebetulan waktu itu saya tengah sibuk menyusun skripsi, saya jadi tidak rutin lagi meminum obatnya. Soalnya pembuatannya itu membutuhkan waktu, sementara kita lagi ngejar deadline, apalagi jika telah mengkonsumsi obat tersebut, badan menjadi lemas, serasa ingin tidur. Makanya waktu itu sempat tidak rutin bahkan sempat beberapa hari saya tidak meminumnya. Tidak lama kemudian saya merasa agak nyeri di bagian tersebut. Saya cek, ternyata benjolannya kembali membesar. Untung waktu itu saya sudah selesai wisuda. Saya kembali mengkonsumsi obat tersebut. Sampai berbulan-bulan saya konsumsi, benjolan tersebut tidak menunjukkan perubahan. Tidak mengecil dan tidak juga membesar.
Akhirnya saya dibawa ke dokter spesialis bedah tumor. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan kalau benjolan ini belum bisa dipastikan apakah membesarnya karena saya sedang pms atau memang karena penyakitnya. Kami diberikan resep obat dan disuruh datang lagi sepekan setelah bersih dari haid. Obatnya saya minum secara rutin. Keesokan harinya setelah pemeriksaan ke dokter ahli bedah tumor, saya mengalami haid. Saya sangat deg-degan. Brarti 2 pekan lagi saya dioperasi, pikirku. SEtelah selesai haid dan seminggu pun setelahnya, ibu mengecek lagi benjolan itu. Katanya benjolannya agak mengecil. Jadi, tidak usah dibawa ke doketr untuk dioperasi. Dan akhirnya saya tidak jadi dioperasi. Kami berhasil menghindar.
Begitu seterusnya hingga hari ini. Ketika menginjungi keluarga yang menderita tumor tadi, dan melihat keadaan pasien-pasien tumor yang lain, saya jadi takut. Saya menjadi khawatir. "Kalau ada benjolan pada tubuh, segera periksakan ke dokter. Segera ambil tindakan sebelum terlambat. Karena kalau sudah parah, maka akan susah ditangani." Kalimat ini sudah sangat sering saya dengar. Dan kalimat ini kembali diulangi oleh keluarga saya yang saya jenguk ini.
Saya menjadi bingung dan khawatir. Ibu menyuruh saya untuk tetap yakin, bakal disembuhkan oleh Allah jika saya memperbaiki sikap saya yang buruk, benjolan ini akan hilang dengan sendirinya walau tanpa operasi, dengan mengkonsumsi obat-obatan tersebut (yang dosisnya saja sebenarnya asal-asalan), karena sudah banyak teman dan kenalannya yang sembuh dengan jalan tersebut. Sementara kalimat yang menyuruh untuk menyegerakan tindakan (operasi) juga selalu terngiang-ngiang. Yang mana yang harus saya ikuti?
Pagi ini saya mencoba memberitahukan ibu tentang kekhawatiran saya. Tapi malah direspon negatif, katanya saya tidak pernah mau mendengar apa yang ibu katakan dan selalu tidak percaya pada perkataannya. Ya sudah kalau begitu saya percaya dan saya ikuti aliran saja. Apa kata ibu, itulah yang harus saya lakukan dan jalani. Semoga memang obat-obatan dan usaha-usaha ini bisa membuahkan hasil. Dan saya segera sembuh. Aamiin..
La ba'sa....Thohurun insyaaAllah..